Luhut Paparkan Tiga Skenario Harga Minyak, Tertinggi Bisa Tembus US$150 per Barel

GEOSIAR.CO.ID 14 Maret 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id

JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, memaparkan tiga skenario harga minyak dunia di tengah perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran yang masih berlangsung.

Ia menyampaikan paparan tersebut dalam Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta, Jumat (13/3/2026). Luhut menilai situasi energi global akan ditentukan oleh perkembangan dalam satu hingga dua pekan ke depan.

Tiga Skenario Harga Minyak

Pada skenario eskalasi, yakni jika serangan langsung Iran ke aset AS di Teluk Persia terjadi disertai penutupan Selat Hormuz lebih dari tujuh hari, harga minyak dunia diperkirakan menembus US$110 hingga US$150 per barel. Skenario kedua adalah konflik berkepanjangan, di mana akses Selat Hormuz dibuka secara terbatas namun saling serang masih berlanjut dan negosiasi berjalan lambat. Pada kondisi ini, harga minyak diperkirakan berada di kisaran US$80 hingga US$110 per barel. Skenario ketiga adalah deeskalasi, yaitu jika gencatan senjata dimediasi dan Selat Hormuz kembali normal, harga minyak diprediksi turun ke kisaran US$65 hingga US$80 per barel.

Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali

Luhut meyakini Iran pada akhirnya tidak akan menutup Selat Hormuz selamanya karena negara itu sendiri bergantung pada jalur tersebut untuk pendapatannya dari ekspor minyak. “Iran juga punya kepentingan untuk mereka survive, jadi Selat Hormuz itu tidak mungkin akan ditutup seterusnya,” kata Luhut dalam Sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3/2026). Ia memperkirakan situasi akan mereda selama periode Lebaran.

DEN: Tidak Perlu Khawatir Berlebihan

Luhut memastikan pemerintah terus memantau perkembangan dan telah menyiapkan langkah antisipasi. “Rekomendasi kami dari DEN, tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Tapi kita tetap awas dan terus memantau perkembangan di luar,” ujarnya. Sebagai konteks, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar US$70 per barel, jauh di bawah harga aktual yang saat ini bertahan di atas US$100 per barel sejak perang meletus pada 28 Februari 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *