Data tersebut bersumber dari laporan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang dipublikasikan pada Jumat (13/3/2026).
China Pimpin Tujuan Ekspor, India Catat Lonjakan Tertinggi
Kemenperin mencatat China masih menjadi negara utama tujuan ekspor industri pengolahan non-migas Indonesia, diikuti Amerika Serikat, India, Jepang, dan Thailand. China menerima ekspor senilai US$4,37 miliar atau naik 23,33 persen (yoy), disusul Amerika Serikat sebesar US$2,49 miliar (naik 9,38 persen yoy) dan India US$1,14 miliar (naik 51,69 persen yoy). Jepang dan Thailand masing-masing menerima ekspor senilai US$888,83 juta dan US$787,92 juta.
Di luar lima besar, tujuan ekspor berikutnya adalah Vietnam (US$757,26 juta), Malaysia (US$686,58 juta), Singapura (US$589,58 juta), Filipina (US$572,34 juta), dan Korea Selatan (US$478,53 juta). Lima negara tujuan lainnya meliputi Belanda (US$449,68 juta), Pakistan (US$409,66 juta), Uni Emirat Arab (US$362,98 juta), Taiwan (US$330,60 juta), dan Bangladesh (US$268,38 juta).
Industri Makanan Jadi Penyumbang Devisa Terbesar
Berdasarkan sektornya, industri makanan menjadi penyumbang devisa terbesar dari ekspor industri pengolahan non-migas pada Januari 2026, dengan nilai US$4,30 miliar. “Nilai ekspor sektor industri makanan pada Januari 2026 didominasi oleh komoditi minyak kelapa sawit sebesar US$2,69 miliar, atau memberi kontribusi sebesar 62,63 persen,” jelas Kemenperin dalam laporannya.
Berdasarkan Rencana Strategis Kemenperin Tahun 2025–2029, kontribusi ekspor produk industri pengolahan non-migas pada tahun 2026 ditargetkan mencapai 74,85 persen dari total ekspor nasional. Capaian Januari 2026 mencerminkan tren positif yang perlu dijaga di tengah tekanan pelemahan bulanan akibat pola musiman awal tahun.