Trump Ancam Ambil Alih Kuba Setelah Iran: Blokade Energi Picu Krisis dan Kerusuhan

GEOSIAR.CO.ID 17 Maret 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id

WASHINGTON, GEOSIAR.CO.ID -Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Kuba menjadi target berikutnya setelah konflik dengan Iran diselesaikan, melanjutkan rentetan kebijakan agresif Washington terhadap negara-negara Amerika Latin. Dalam pernyataan di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump memprediksi pemerintah komunis Kuba sangat ingin mencapai kesepakatan dengan AS, namun menegaskan prioritas strategisnya saat ini masih tertuju pada konflik yang sedang berlangsung dengan Iran di Timur Tengah.

“Saya pikir kita akan segera membuat kesepakatan atau melakukan apa pun yang harus kita lakukan. Kami sedang berbicara dengan Kuba, tetapi kami akan menangani Iran sebelum Kuba,” ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, dalam pernyataannya dikutip dari NDTV, Senin (16/3).

Wacana “Pengambilalihan Damai” yang Mengundang Kontroversi

Pernyataan ini memperkuat pola “tekanan maksimum” yang menjadi ciri khas kebijakan luar negeri pemerintahan Trump. Trump pertama kali mengusulkan kemungkinan “pengambilalihan Kuba secara bersahabat” pada 27 Februari 2026, dengan menyatakan bahwa pemerintah AS dan Kuba sedang melakukan pembicaraan tingkat tinggi. “Pemerintah Kuba sedang bernegosiasi dengan kami. Mereka berada dalam situasi yang sangat sulit. Mereka tidak punya uang, tidak punya apa-apa. Mungkin suatu hari nanti kami akan mengambil alih Kuba secara bersahabat,” kata Trump.

Langkah-langkah Trump terhadap Kuba dinilai sejalan dengan upayanya menghidupkan kembali “Doktrin Monroe”, yakni sebuah kebijakan abad ke-19 yang menyatakan Benua Amerika Barat harus sepenuhnya berada di bawah pengaruh Amerika Serikat dan tidak boleh dikuasai oleh kekuatan asing lainnya. Baik Trump maupun Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tidak merahasiakan keinginan mereka untuk mewujudkan perubahan rezim di Havana setelah sebelumnya menggulingkan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro.

Blokade Energi Lumpuhkan Kuba

Kuba belum menerima pengiriman minyak sejak 9 Januari 2026, kondisi yang memaksa maskapai penerbangan mengurangi atau menangguhkan penerbangan ke pulau itu sekaligus memperdalam krisis ekonomi yang berkepanjangan. Trump juga secara resmi mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang mengirimkan minyak ke Kuba, sebagaimana dikutip dari pernyataannya kepada CNN pada Jumat (6/3). Kebijakan tersebut membuat beberapa negara menunda rencana pengiriman minyak ke Havana.

Blokade Trump turut memutus pasokan minyak dari Venezuela, yang semakin memperburuk krisis energi dan ekonomi Kuba. Krisis ini memicu ketidakstabilan sosial yang meningkat di berbagai wilayah. Pada 13 Maret 2026, para demonstran menerobos gedung Komite Lokal Partai Komunis Kuba di kota Morón, provinsi Ciego de Ávila, dan membakarnya.

Kuba Buka Dialog, Tolak Penyerahan

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyatakan kesediaan untuk terlibat dalam pembicaraan dengan pemerintahan Trump guna meredakan ketegangan antara kedua negara. “Percakapan ini bertujuan untuk mencari solusi melalui dialog atas perbedaan bilateral yang ada antara kedua negara kita,” ujar Diaz-Canel dalam pertemuan dengan jajaran pejabat tinggi Kuba yang disiarkan melalui televisi nasional, Jumat (13/3).

Namun Havana menolak tegas pendekatan perubahan rezim yang diinginkan Washington, dengan menegaskan bahwa “menyerah bukanlah pilihan bagi Kuba”. Para analis menilai pernyataan Trump bahwa situasi ini “tidak harus menjadi krisis kemanusiaan” merupakan tekanan terselubung agar Havana tunduk pada syarat-syarat Washington, bukan tawaran dialog yang setara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *