Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyebut angka tabungan tersebut merupakan rekor tertinggi, mengindikasikan sebagian besar tunjangan hari raya tidak segera dibelanjakan melainkan mandek di perbankan.
Daya Beli Kelas Menengah Bawah Masih Tertekan
Direktur Eksekutif lembaga kajian Core Indonesia Mohammad Faisal menyatakan peningkatan konsumsi pada momentum Lebaran tahun ini tidak merata karena tertahan oleh kondisi daya beli kelas menengah bawah yang masih menghadapi tekanan. Kondisi itu dipengaruhi oleh pendapatan yang belum pulih sepenuhnya, bahkan upah riil pekerja sempat menyusut pada 2025. “Kondisi belum banyak membaik bagi kelas menengah bawah, meski di kelas menengah atas konsumsi tampak meningkat sehingga mendorong kenaikan konsumsi secara agregat,” kata Faisal.
Fenomena penurunan daya beli ini tercermin dari aktivitas perdagangan di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Seorang pedagang pakaian muslim yang enggan disebut namanya mengaku omzetnya turun hingga 50 persen dibandingkan Lebaran tahun lalu menjelang Idulfitri 2026. Penurunan itu mencerminkan lesunya daya beli konsumen kelas bawah yang menjadi tulang punggung pasar tekstil tradisional.
Masyarakat Andalkan Pinjaman untuk Tutup Kebutuhan Lebaran
Survei Bank Amar terhadap 1.600 responden pekerja berusia 20 hingga 55 tahun di empat kota besar menunjukkan 87 persen responden mengaku pengeluaran mereka meningkat selama Ramadan, dengan pos pengeluaran terbesar berasal dari kebutuhan rumah tangga sebesar 86 persen, disusul belanja baju Lebaran dan buka bersama sebesar 67,6 persen, serta tiket mudik sebesar 26,4 persen. Direktur Perbankan Ritel Amar Bank Abraham Lumban Batu menyebut tantangan finansial Lebaran kali ini lebih bersumber dari kebutuhan rutin dan semi-rutin yang menumpuk dalam periode singkat. “Kami menduga tantangan finansial Ramadan–Lebaran kali ini lebih dekat dengan kebutuhan rutin dan semi-rutin yang menumpuk dalam periode singkat,” ujarnya dalam keterangan pers, Selasa (17/3/2026).
Sebanyak 50,4 persen responden menggunakan pinjaman, baik sepenuhnya maupun dikombinasikan dengan dana darurat, untuk menutup pengeluaran tak terduga selama periode Lebaran.
Pemerintah Targetkan Perputaran Uang Rp148 Triliun
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang memproyeksikan perputaran uang Lebaran 2026 bisa mencapai Rp148,39 triliun, naik sekitar 8 persen dari tahun lalu, berdasarkan asumsi rata-rata pengeluaran per keluarga meningkat 10 persen menjadi Rp4,12 juta per kepala keluarga. Pemerintah sendiri menggenjot konsumsi domestik melalui program Belanja di Indonesia Aja Lebaran 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 30 Maret 2026, melibatkan lebih dari 400 pusat perbelanjaan dan sekitar 80.000 toko di seluruh Indonesia, dengan target transaksi Rp53,38 triliun. Namun Wijayanto memperingatkan tantangan berat justru akan muncul pada kuartal-kuartal setelah Lebaran. “Masyarakat merespons potensi ekonomi sulit pasca-Lebaran dengan melakukan penghematan belanja,” pungkasnya kepada Kontan.co.id, Selasa (17/3/2026).