Langkah ini menandai kemerosotan nyata hubungan diplomatik kedua negara yang sempat dinormalisasi pada 2023 setelah bertahun-tahun berseberangan dalam berbagai konflik kawasan.
Serangan Iran ke Riyadh Jadi Pemicu Langsung
Ketegangan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke ibu kota Teheran serta sejumlah kota lain di Iran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei bersama sejumlah komandan militer senior dan ribuan warga sipil. Iran kemudian melancarkan serangkaian serangan balasan menggunakan rudal dan pesawat nirawak yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan dan aset milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Menlu Saudi: Kepercayaan Sudah Hancur Sepenuhnya
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan menyatakan kepercayaan antara Riyadh dan Teheran telah hancur sepenuhnya akibat serangan-serangan terbaru Iran. “Sedikit kepercayaan yang masih ada sebelumnya kini sudah benar-benar hancur,” kata Faisal usai pertemuan menteri luar negeri negara-negara Teluk di Riyadh, Kamis (19/3/2026). Faisal menegaskan Arab Saudi tidak akan tunduk pada tekanan dan mempertegas hak kerajaan untuk mengambil tindakan militer jika diperlukan. “Kerajaan tidak akan menyerah pada tekanan. Justru sebaliknya, tekanan ini akan berbalik. Kami telah menyatakan dengan jelas bahwa kami berhak mengambil tindakan militer jika dianggap perlu,” ujarnya.
12 Negara Teluk Bersatu Kecam Iran
Pada waktu yang hampir bersamaan, 12 negara Timur Tengah termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Mesir mengeluarkan pernyataan bersama yang secara tegas mengutuk Iran dan menuntut Teheran segera menghentikan serangan serta menghindari tindakan yang mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz maupun keamanan maritim di Selat Bab el-Mandeb. Qatar juga mengambil langkah serupa dengan mengusir pegawai kantor atase militer Iran dengan tuduhan melanggar prinsip hubungan bertetangga yang baik. Dampak konflik ini pun mulai terasa pada sektor energi global, di mana distribusi minyak dan gas alam dari kawasan Timur Tengah dilaporkan terganggu dan sejumlah fasilitas produksi menghentikan operasionalnya akibat meningkatnya risiko keamanan.