Kondisi keamanan yang memburuk mendorong pemerintah Tiongkok mengintensifkan operasi evakuasi yang telah berjalan sejak awal Maret, kini melalui jalur darat perbatasan Taba dengan Mesir.
Serangan Rudal Iran Kian Meluas dan Mematikan
Kedutaan Besar Tiongkok di Israel menjelaskan bahwa lingkup, frekuensi, dan intensitas serangan rudal dan pesawat tak berawak terhadap Israel terus meningkat, menyebabkan bertambahnya korban jiwa dan kerugian harta benda, serta berulangnya insiden di mana warga terluka karena tidak sempat mencapai tempat perlindungan bom tepat waktu. Situasi ini mendorong pemerintah Tiongkok memperluas operasi evakuasinya ke wilayah Israel setelah sebelumnya berfokus pada Iran.
Kedutaan juga mengingatkan warganya yang masih tinggal di Israel agar menjauhi bandara, pelabuhan, pembangkit listrik, kilang minyak, fasilitas infrastruktur penting, serta situs militer yang sensitif. Imbauan ini mencerminkan tingginya risiko yang dihadapi warga sipil asing di lapangan.
Gelombang Evakuasi Tiongkok Dimulai Sejak Awal Maret
Ini bukan langkah pertama pemerintah Tiongkok dalam melindungi warganya dari konflik Timur Tengah. Pemerintah Tiongkok mengonfirmasi telah mengevakuasi hampir 300 warga negaranya dari zona konflik, dengan ratusan di antaranya tiba di Guangzhou pada 4 Maret melalui jalur Dubai. Maskapai Air China dan China Southern Airlines turut melanjutkan penerbangan terbatas ke wilayah Teluk untuk mendukung proses pemulangan warga.
Lebih dari 260 warga Tiongkok juga telah menyeberang ke Azerbaijan melalui program evakuasi yang dikoordinasikan oleh Kedutaan Besar Tiongkok di Iran. Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyiapkan sejumlah jalur evakuasi darat dari Iran melalui Azerbaijan, Armenia, Turki, dan Irak, dengan kedutaan dan konsulat setempat siap memberikan bantuan bagi warga dalam proses relokasi.
Sikap Politik Tiongkok: Kecam Perang, Dukung Dialog
Di balik langkah evakuasi, pemerintah Tiongkok tetap mempertahankan sikap politiknya yang menentang konflik ini. Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada 2 Maret 2026, menegaskan bahwa serangan AS dan Israel terhadap Iran di tengah proses perundingan nuklir tidak dapat diterima, dan menyebut upaya perubahan rezim melanggar hukum internasional serta norma dasar hubungan antarnegara.
Pemerintah Tiongkok juga menyoroti pentingnya stabilitas di Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan energi global dan mendesak semua pihak untuk menahan diri demi menghindari gangguan ekonomi global yang lebih parah. Hingga kini, total warga Tiongkok yang telah dievakuasi dari Iran dan Israel mencapai lebih dari 560 orang, dengan gelombang evakuasi berikutnya masih terus dikoordinasikan.