Lobi ke Iran, Mesir, hingga Turki
Anwar mengungkapkan bahwa dirinya telah berbicara dengan para pemimpin Iran, Mesir, Turki, dan sejumlah negara regional lainnya dalam rangka memfasilitasi perdamaian di Asia Barat sekaligus mengamankan jalur pelayaran bagi kapal-kapal Malaysia. Ia mengakui bahwa proses negosiasi tidak mudah karena Iran merasa telah berulang kali ditipu dan sulit menerima langkah perdamaian tanpa jaminan keamanan yang jelas dan mengikat. Peran aktif Malaysia dinilai membuahkan hasil setelah Teheran akhirnya memberi lampu hijau bagi kapal-kapal dari Kuala Lumpur.
Iran sebelumnya telah menegaskan hanya membuka Selat Hormuz bagi negara-negara yang dianggap bersahabat. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebutkan negara-negara yang diizinkan melintas mencakup China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan. Malaysia berhasil masuk dalam daftar itu setelah Anwar menjalin komunikasi langsung dengan Teheran.
Subsidi Bahan Bakar Malaysia Tertekan
Anwar menyampaikan bahwa pemerintah Malaysia akan mempertahankan harga bahan bakar bersubsidi untuk warganya, meski menghadapi tekanan pasokan akibat gangguan di Selat Hormuz sejak serangan AS-Israel ke Iran pada akhir Februari 2026. Namun ia mengakui pemerintah terpaksa mengambil langkah-langkah untuk meredam dampak gangguan pasokan, termasuk pembatasan alokasi bahan bakar bersubsidi. Harga RON95 yang tidak disubsidi di Malaysia telah naik 45 persen sejak 11 Maret 2026.
Indonesia Belum Dapat Izin Melintas
Sementara Malaysia telah mendapat izin, Indonesia hingga kini belum mendapatkan akses serupa dari Iran. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengonfirmasi hal itu dan menyatakan pemerintah tengah mengupayakan sumber pasokan minyak dari berbagai negara lain sebagai antisipasi. Dua kapal tanker milik Indonesia, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, per 26 Maret 2026 masih tertahan di kawasan perairan Arab Saudi dan Kuwait, belum bisa melanjutkan perjalanan pulang.