Pasar Percaya, Analis Sebut Fiskal Indonesia di Titik Tekan
Pada perdagangan di London, harga nikel tercatat naik 2,1 persen menjadi 17.310 dolar AS per ton. “Investor kini cenderung lebih percaya pada rencana ini mengingat kesulitan fiskal yang dihadapi Indonesia,” ujar Gao Yin, analis dari Shuohe Asset Management Co., Rabu (25/3/2026). Menurutnya, pajak ekspor yang lebih tinggi secara otomatis akan mendongkrak biaya produksi serta harga nikel di pasar internasional.
Tekanan anggaran ini muncul di tengah kondisi Indonesia sebagai negara importir bersih minyak mentah yang sangat rentan terhadap lonjakan harga akibat perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Wacana pajak ekspor nikel sebenarnya telah muncul sejak 2022, namun urgensinya meningkat drastis pada 2026 seiring tekanan fiskal yang kian berat. Strategi ini merupakan bagian dari peta jalan hilirisasi yang telah dicanangkan Indonesia sejak era pemerintahan sebelumnya.
Bahlil Buka Peluang Naikkan HPM Nikel
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga membuka peluang kenaikan Harga Patokan Mineral (HPM) untuk komoditas nikel dalam waktu dekat, sesuai arahan Presiden Prabowo yang meminta sumber-sumber pendapatan baru dari sektor mineral. “Bapak Presiden tadi juga memerintahkan untuk mencari sumber-sumber pendapatan di sektor mineral yang selama ini belum adil bagi negara. Kemungkinan besar HPM untuk nikel saya akan naikkan,” ujar Bahlil di Istana Negara, Jakarta, Kamis (26/3/2026).
Bahlil sekaligus membuka peluang relaksasi terbatas terhadap kuota produksi batu bara dan nikel jika harga tetap stabil. “Andaikan harganya stabil terus, bagus, kami akan membuat relaksasi terhadap perencanaan produksi, tetapi terukur,” ujarnya, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (26/3/2026). Pemerintah sebelumnya telah menetapkan kuota produksi bijih nikel 2026 di kisaran 250-260 juta ton, turun signifikan dari realisasi 2025 sebesar 379 juta ton, sebagai bagian dari strategi pengendalian pasokan dan permintaan global.