KEK Sei Mangkei Sudah Dihuni 25 Perusahaan
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumut, Nurbaiti Harahap, memaparkan bahwa KEK Sei Mangkei saat ini sudah dihuni 25 perusahaan dengan Unilever sebagai investor terbesar, saat dikonfirmasi usai pertemuan, 27/3. Ia menambahkan, dua perusahaan asal Jepang sedang dalam tahap pembangunan di KEK tersebut, sehingga kehadiran Hankyu Hanshin berpotensi memperkuat ekosistem industri Jepang di kawasan itu. Investasi di Sumut saat ini masih didominasi oleh investor asal Malaysia dan Singapura, sehingga kehadiran investor baru dari Jepang diharapkan dapat mendiversifikasi sumber modal asing.
Pj Sekda Sulaiman Harahap menegaskan bahwa Pemprov Sumut terbuka terhadap ekspansi investasi Hankyu Hanshin ke sektor yang lebih luas, tidak hanya sektor properti dan residensial yang selama ini menjadi fokus perusahaan. “Kami menyambut baik kedatangan PT Hankyu Hanshin di Sumut. Harapannya dapat mengembangkan investasinya yang sudah ada di Sumut, bukan hanya di sektor properti dan residensial saja,” ujar Sulaiman, 27/3. Sumut memiliki potensi investasi yang luas di sektor pariwisata, pertanian, perkebunan, pendidikan, kesehatan, hingga sumber daya mineral terbarukan.
Hankyu Hanshin Ingin Ekspansi ke Transportasi
Presiden Direktur PT Hankyu Hanshin, Takeda Takashi, menjelaskan bahwa perusahaannya memiliki investasi di delapan negara, dengan sekitar 50 persen portofolio globalnya berada di Indonesia, saat ditemui di Kantor Gubernur Sumut, 27/3. Nilai investasi Hankyu Hanshin di Indonesia diklaim mendekati Rp15 triliun, tersebar di sejumlah proyek properti premium dan komersial termasuk kepemilikan mayoritas Central Park Mall dan Neo Soho Mall di Jakarta, serta proyek residensial di BSD dan Sentul. Di Medan, perusahaan ini sudah berinvestasi di Deli Park dan kawasan Podomoro.
“Di Jepang, awalnya kami adalah perusahaan yang bergerak di sektor transportasi: bus cepat, lintas rel terpadu, dan lainnya. Kalau ada transportasi maka ada terminal dan mal, begitu juga ada kawasan hunian yang semuanya terkoneksi,” jelas Takeda, 27/3. Model bisnis terintegrasi antara transportasi, kawasan komersial, dan hunian yang menjadi keunggulan Hankyu Hanshin di Jepang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pengembangan BRT di Sumut. Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju penjajakan investasi yang lebih konkret di sektor transportasi Sumatera Utara.