13,5 Juta Nyawa Bisa Diselamatkan dari Polusi, tapi Negara Berkembang Justru Bisa Rugi

GEOSIAR.CO.ID 6 April 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id

WASHINGTON, GEOSIAR.CO.IDSebuah studi yang diterbitkan di jurnal The Lancet Global Health pada 16 Maret 2026 mengungkap temuan yang sekaligus menggembirakan sekaligus mengkhawatirkan: aksi iklim yang konsisten dengan target Perjanjian Paris berpotensi mencegah lebih dari 13,5 juta kematian dini akibat polusi udara antara tahun 2020 hingga 2050. Namun manfaat itu tidak otomatis mengalir ke negara-negara yang paling membutuhkannya. Penelitian lintas enam negara ini menemukan bahwa cara dunia membagi beban pengurangan emisi justru bisa menentukan jutaan nyawa yang terselamatkan atau tidak di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Studi ini dipimpin oleh peneliti dari Princeton University, University of Texas at Austin, Emory University, dan kolaborator dari enam negara. Tim memodelkan beberapa pendekatan untuk mencapai target 2 derajat Celsius Perjanjian Paris, menggunakan serangkaian model mutakhir yang menelusuri hubungan antara pilihan kebijakan, emisi, kualitas udara, dampak kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi di 178 negara hingga akhir abad ini.

Dilema antara Keadilan dan Nyawa

Temuan kunci studi ini menyentuh ketegangan yang selama ini jarang dibicarakan dalam forum iklim internasional. Dalam skenario efisiensi biaya, di mana emisi dipangkas di mana pun paling murah, negara berkembang menanggung porsi mitigasi lebih besar tetapi sekaligus menikmati manfaat kualitas udara terbesar. Sebaliknya, dalam skenario berbasis keadilan, di mana negara kaya mengambil lebih banyak beban, negara berkembang membayar lebih sedikit biaya, tetapi hampir empat juta kematian dini lebih sedikit yang terhindarkan karena pengurangan bahan bakar fosil terjadi di tempat yang polusinya sudah lebih rendah.

“Kami menemukan ketegangan yang sulit antara keadilan iklim distributif internasional dan tujuan menyelamatkan nyawa melalui manfaat kualitas udara,” ujar Mark Budolfson, profesor di University of Texas at Austin sekaligus salah satu pemimpin studi ini. “Dalam rezim iklim Paris yang berlaku saat ini, menggeser mitigasi dari negara miskin ke negara kaya justru punya efek paradoks yaitu jumlah nyawa yang terselamatkan melalui perbaikan kualitas udara di negara miskin justru berkurang, kemungkinan hingga jutaan jiwa.”

Skenario Terbaik yang Ditemukan

Para peneliti juga menguji skenario keempat sebagai jalan keluar dari dilema ini, yakni rezim iklim berbasis keadilan di mana negara berkembang menginvestasikan penghematan biaya mitigasi mereka ke dalam pengendalian polusi udara konvensional secara domestik, seperti teknologi pengurang emisi di cerobong pembangkit listrik. Skenario “Equity + Air Quality” ini terbukti paling menguntungkan secara keseluruhan: menggabungkan keadilan pembagian beban iklim sekaligus mempertahankan potensi penyelamatan nyawa penuh di negara berkembang.

“Ada kebutuhan mendesak untuk merancang rezim mitigasi iklim yang berpusat pada keadilan, guna memastikan negara berkembang tidak melewatkan kesempatan untuk mewujudkan pengurangan polusi udara yang transformatif,” kata Noah Scovronick, salah satu penulis utama studi ini.

Relevansi bagi Perundingan Iklim Mendatang

Para penulis menegaskan temuan ini langsung relevan untuk babak berikutnya dari negosiasi iklim internasional, di mana negara-negara akan memperbarui komitmen pengurangan emisi mereka. Selama ini, dimensi kualitas udara hampir tidak pernah masuk dalam diskusi utama Perjanjian Paris meskipun dampaknya terhadap kesehatan publik di negara berkembang sangat nyata.

“Penelitian kami menunjukkan manfaat dari melihat kebijakan pembangunan dan iklim secara bersamaan,” kata Navroz K. Dubash, profesor di Princeton University. “Merancang kebijakan yang secara proaktif mengatasi tarik-menarik antara pembatasan emisi secara adil sekaligus menangani polusi udara menghasilkan hasil terbaik bagi semua pihak.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *