Hampir 10.000 Spesies Tumbuhan Berbunga Terancam Punah, Termasuk Bunga Bangkai dan Anggrek Vanila
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
GEOSIAR.CO.ID 12 Mei 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id
JAKARTA , GEOSIAR.CO.ID — Para ilmuwan dari Royal Botanic Gardens (Kew) di Inggris menemukan hampir 10.000 spesies tumbuhan berbunga di dunia berada di ambang kepunahan.
Jika spesies tersebut benar-benar lenyap, sekitar 21 persen sejarah evolusi tumbuhan berbunga atau “pohon kehidupan” angiosperma akan ikut hilang. Temuan itu dipublikasikan dalam jurnal Science edisi Kamis, 7 Mei 2026.
Studi tersebut dipimpin oleh ahli biologi evolusi tumbuhan Felix Forest. Tim peneliti menggunakan sistem prioritas konservasi EDGE yang telah dikembangkan ilmuwan Inggris selama 20 tahun untuk mengidentifikasi spesies paling unik secara evolusi.
Tumbuhan berbunga atau angiosperma mencakup lebih dari 335.000 spesies di seluruh dunia. Banyak di antara spesies yang terancam punah merupakan jenis sangat tua secara evolusi dan tidak memiliki kerabat dekat.
Di antara spesies yang tercatat dalam daftar EDGE terdapat Titan Arum atau bunga bangkai raksasa, yang dikenal sebagai bunga terbau di dunia. Anggrek penghasil vanila juga masuk dalam daftar prioritas konservasi.
“Manusia umumnya lebih tertarik pada makhluk berbulu lucu atau hewan bersayap dibanding tumbuhan. Memang begitulah kenyataannya,” kata Felix Forest dalam keterangan studi yang dirilis Royal Botanic Gardens Kew, Kamis (7/5/2026).
Forest menyebut sejarah evolusi yang terancam hilang pada tumbuhan berbunga unik lebih besar dibanding hampir semua kelompok flora dan fauna lain, kecuali kura-kura dan penyu.
Spesies seperti Ginkgo biloba misalnya, tidak memiliki kerabat serupa dan mewakili ratusan juta tahun evolusi.
Studi kedua yang dipublikasikan di jurnal Science pada hari yang sama menyoroti risiko kepunahan di masa depan. Penelitian itu dipimpin Xiaoli Dong, ahli ekologi dari University of California Davis.
Studi Dong memperkirakan 7 hingga 16 persen spesies tumbuhan dunia akan kehilangan setidaknya 90 persen habitatnya dalam 55 hingga 75 tahun mendatang. Angka itu setara dengan 35.000 hingga 50.000 spesies berdasarkan skenario polusi karbon tingkat menengah.
“Laju pemanasan menjadi pendorong utama kepunahan,” ujar Dong sebagaimana dilaporkan AsiaOne, Sabtu (9/5/2026).
Tim Dong menjalankan jutaan simulasi komputer untuk meneliti 18 persen spesies tumbuhan dunia secara mendetail. Hasilnya menunjukkan tumbuhan tidak akan mampu menghindari kepunahan meskipun mereka berpindah ke wilayah lebih sejuk.
“Bukan karena mereka tidak bergerak cukup cepat, tetapi karena habitat yang mereka butuhkan sudah tidak akan ada lagi,” kata Dong sebagaimana diterjemahkan dari laporan AsiaOne, Sabtu (9/5/2026).
Dong mencontohkan tulip yang membutuhkan kombinasi tertentu antara jenis tanah, suhu, dan curah hujan. Perubahan iklim telah menggeser suhu ideal ke arah utara dan pola hujan ke timur, sementara kondisi tanah tetap di tempat semula.
Studi tersebut menemukan kondisi paling parah terjadi di tiga wilayah: Arktik, Mediterania, dan Australia. Suhu di Arktik meningkat empat kali lebih cepat dibanding wilayah lain di dunia.
Penelitian itu juga melibatkan kolaborasi internasional dengan Zoological Society of London (ZSL) dan Boise State University. Total 9.945 spesies masuk dalam daftar EDGE prioritas konservasi global.
Mulai 20 Mei 2026, sejumlah spesies dalam daftar EDGE akan dipamerkan di Princess of Wales Conservatory, Kew Gardens, London.
Pameran tersebut menampilkan spesies langka seperti Blue Amaryllis atau Empress of Brazil (Worsleya procera) yang berstatus kritis, dan vulcan palm (Brighamia insignis) yang sudah punah di alam liar sejak 2020.
www.geosiar.co.id