Bahan Baku Pupuk Nasional Aman, Pemerintah Siapkan Alternatif Impor dari Eurasia

GEOSIAR.CO.ID 28 Maret 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id

JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Pemerintah Indonesia memastikan pasokan bahan baku pupuk nasional masih dalam kondisi aman di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang mengguncang rantai pasok global sejak akhir Februari 2026. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan dengan menyiapkan diversifikasi sumber impor, termasuk mengalihkan pengadaan ke negara-negara di kawasan Eurasia seperti Kazakhstan dan Uzbekistan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap terganggunya jalur distribusi dari kawasan Timur Tengah setelah penutupan Selat Hormuz yang dipicu konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Stok Bahan Baku Cukup hingga September 2026

Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero), Yehezkiel Adiperwira, menegaskan kapasitas produksi perusahaan saat ini mencapai 14,5 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk, termasuk urea yang seluruh kebutuhan domestiknya dapat dipenuhi dari dalam negeri dalam keterangannya, 7/3. Untuk pupuk urea, ketahanan bahan baku dijamin oleh gas bumi domestik yang pasokan dan harganya telah diatur pemerintah, sehingga tidak bergantung pada kawasan konflik. Stok bahan baku Pupuk Indonesia saat ini bahkan diklaim cukup untuk menjamin produksi hingga September 2026 tanpa perlu pengadaan baru dalam waktu dekat.

Bahan baku yang berpotensi terdampak adalah sulfur, fosfat, dan kalium yang masih mengandalkan impor. Fosfat selama ini diperoleh dari negara-negara Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair, sementara kalium bersumber dari Kanada dan Laos yang berada di luar zona konflik. Hanya sulfur yang bersumber dari kawasan Teluk Persia, yakni Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait, namun alternatif dari Kanada sudah disiapkan sebagai penggantinya.

Mendag Pastikan Ekspor Pupuk Tidak Dibatasi

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan pemerintah belum berencana membatasi ekspor pupuk meski persaingan global dalam mendapatkan bahan baku semakin ketat, saat ditemui di kantornya, 27/3. Ia menyebut, sepanjang 2025 Indonesia mengekspor pupuk sebanyak 2,148 juta ton, meningkat dari 1,704 juta ton pada 2024. “Kita sudah antisipasi untuk bahan baku. Jadi terutama yang impor, kita cari alternatif pasar atau barangnya. Substitusi barangnya bisa saja ngambil dari negara yang ada, atau komoditas yang sama yang bisa diambil dari negara lain,” kata Budi.

Kondisi berbeda terjadi di beberapa negara ASEAN dan global yang mulai membatasi ekspor pupuk demi menjaga kebutuhan dalam negeri. India sebagai salah satu importir urea terbesar dunia tengah menjajaki pengadaan tambahan, sementara China dan Rusia membatasi ekspor. Brasil dan Amerika Serikat mengambil langkah masing-masing untuk mengamankan pasokan pertanian mereka.

Situasi ini dinilai lebih berisiko dibandingkan gangguan rantai pasok saat perang Rusia-Ukraina pada 2022 karena melibatkan porsi perdagangan pupuk global yang lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *