Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menyatakan gempa tersebut merupakan jenis gempa dangkal yang dipicu aktivitas subduksi Laut Maluku dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Guncangan juga dirasakan kuat di Kota Ternate, Maluku Utara, sehingga memicu kepanikan warga yang berhamburan keluar rumah.
Satu warga di Manado dilaporkan meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Di Kota Ternate, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat satu unit gedung gereja di Kecamatan Pulau Batang Dua mengalami kerusakan, sementara dua unit rumah di Kelurahan Ganbesi, Kecamatan Ternate Selatan, juga rusak.
Peringatan Dini Tsunami Belum Dicabut hingga Pagi
BMKG mencatat gelombang tsunami terdeteksi di tiga wilayah: setinggi 0,3 meter di Halmahera Barat pada pukul 06.08 WIB, 0,2 meter di Bitung pada pukul 06.15 WIB, dan 0,75 meter di Minahasa Utara. Status siaga ditetapkan untuk Kota Ternate, Halmahera, Tidore, dan Bitung dengan potensi ketinggian gelombang antara 0,5 hingga 3 meter.
“Gempa bumi ini berpotensi tsunami di wilayah Kota Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung, dengan status siaga dengan ketinggian tsunami 0,5 hingga 3 meter,” ujar Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG, dalam konferensi pers virtual pada 2/4. Hingga pagi hari, peringatan dini belum dicabut dan BMKG menyatakan akan menggelar konferensi pers lanjutan setelah peringatan resmi berakhir.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, melaporkan dua gempa susulan terjadi masing-masing berkekuatan 5,5 magnitudo pada pukul 06.07 WIB dan 5,2 magnitudo pada pukul 06.12 WIB. Keduanya berpusat di laut dan tidak berpotensi tsunami, meski tetap dirasakan warga di wilayah terdampak. Masyarakat pesisir diminta tidak kembali ke area rawan sebelum ada pernyataan aman dari pemerintah.