“Penyebab masalah kesehatan jiwa juga. Ini namanya buka sosmed yang nggak ada tujuannya, kita malah dapat efek kelonjakan dopamin yang negatif,” ujar Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, Kamis (2/4/2026). Pernyataan itu muncul di tengah maraknya istilah-istilah baru yang menggambarkan kondisi kesehatan mental khas Gen Z, dari brain rot hingga imposter syndrome.
Brain Rot dan Dampaknya pada Kognitif
Brain rot merujuk pada penurunan kemampuan fokus, daya ingat, hingga suasana hati akibat konsumsi konten digital berlebihan secara terus-menerus. Istilah ini dinobatkan sebagai Oxford Word of the Year 2024, mencerminkan betapa luasnya fenomena ini dirasakan generasi muda di seluruh dunia.
Meski bukan diagnosis medis resmi, dampaknya nyata: sulit berkonsentrasi, mudah marah, kehilangan motivasi, dan cenderung menghindari aktivitas yang memerlukan pemikiran mendalam. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Brain Sciences (2025) menyebut brain rot berkaitan erat dengan desensitisasi emosional, kelebihan beban kognitif, dan konsep diri yang negatif.
Doomscrolling Picu Stres dan Gangguan Tidur
Doomscrolling adalah kebiasaan menggulir berita atau konten negatif tanpa henti, meski sudah merasa cemas atau lelah. Berbagai studi menunjukkan perilaku ini secara konsisten dikaitkan dengan meningkatnya stres, kecemasan, gangguan tidur, hingga penurunan produktivitas.
Berbeda tipis, zombie scrolling menggambarkan kondisi seseorang yang menggulir layar tanpa tujuan dan bahkan tanpa kesadaran penuh. Otak sudah lelah tetapi tangan terus bergerak, menjadikan media sosial semacam gerak refleks yang sulit dihentikan.
Popcorn Brain, Fenomena yang Diakui Pakar Harvard
Istilah popcorn brain diciptakan oleh peneliti David Levy dalam bukunya Mindful Tech, menggambarkan kondisi otak yang terus melompat dari satu hal ke hal lain layaknya biji jagung yang meletup di dalam microwave. Dr. Ashwini Nadkarni, Asisten Profesor Psikiatri di Harvard Medical School, menyebut kondisi ini sebagai kecenderungan pikiran untuk bergerak dengan perhatian yang terfragmentasi, tingkat gangguan yang tinggi, dan fokus yang menurun.
Media sosial disebut sebagai tersangka utama. Tuntutan multitasking digital, dari membalas pesan sambil menonton video sambil membuka toko daring, melatih otak untuk tidak pernah benar-benar hadir pada satu hal.
Imposter Syndrome Diperparah Tekanan Medsos
Imposter syndrome adalah kondisi psikologis di mana seseorang meragukan seluruh pencapaiannya sendiri dan takut suatu hari orang lain akan menyadari bahwa ia sebenarnya tidak sehebat yang terlihat. Kondisi ini bukan gangguan resmi dalam DSM, namun erat dikaitkan dengan kecemasan dan depresi.
Psikolog UGM Nandy Agustin Syakarofath menyebut imposter syndrome dapat dialami siapa saja tanpa memandang latar belakang pendidikan atau pekerjaan. Tekanan lingkungan digital yang mendorong perbandingan diri dengan orang lain secara konstan dinilai menjadi faktor yang memperparah kondisi ini pada generasi Z.
Pemerintah Dorong Deteksi Dini
Para ahli menyarankan sejumlah langkah sederhana untuk menekan dampak gangguan mental digital tersebut, antara lain membatasi waktu layar harian, menghapus aplikasi yang tidak bermanfaat, serta menghindari membuka ponsel setidaknya 30 menit setelah bangun tidur. Aktivitas fisik, membaca buku, dan interaksi langsung dengan orang di sekitar juga disebut efektif memulihkan kemampuan fokus yang terkikis.
Menkes Budi juga mengingatkan agar masyarakat, khususnya orang tua, lebih aktif memantau kebiasaan digital anak-anak mereka. Deteksi dini melalui program Cek Kesehatan Gratis terus diperluas ke seluruh wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya pemerintah menekan angka gangguan kesehatan jiwa sejak dini.