Harga Minyak Dunia Anjlok 11 Persen Usai Trump Sebut Perang Iran Bisa Segera Berakhir

GEOSIAR.CO.ID 11 Maret 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id

NEWYORK, GEOSIAR.CO.ID – Harga minyak mentah dunia jatuh tajam pada perdagangan Selasa (10/3/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran berpotensi segera berakhir.

Pernyataan tersebut langsung meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent sempat merosot lebih dari 11 persen menjadi sekitar 87,80 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) turun ke kisaran 83 dolar AS per barel. Penurunan itu terjadi setelah sehari sebelumnya harga minyak melonjak ke level tertinggi sejak 2022.

Sebelumnya pada Senin (9/3/2026), harga minyak dunia sempat melonjak hingga sekitar 119,50 dolar AS per barel akibat kekhawatiran konflik di Timur Tengah akan mengganggu pasokan energi global.

Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk.

Pernyataan Trump Ubah Arah Pasar

Sentimen pasar mulai berubah setelah Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran sudah berjalan “hampir selesai” dan konflik tersebut berpotensi segera mereda. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara media serta melalui platform media sosialnya.

Komentar tersebut membuat pelaku pasar menilai risiko gangguan pasokan minyak mungkin tidak berlangsung lama. Akibatnya, banyak investor mulai melepas posisi pada kontrak minyak yang sebelumnya dibeli saat harga melonjak.

Penurunan harga minyak juga terjadi di tengah spekulasi bahwa negara-negara industri akan mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis guna menstabilkan pasar energi global.

Namun demikian, ketegangan geopolitik di kawasan tersebut belum sepenuhnya mereda. Amerika Serikat masih melanjutkan operasi militer terhadap target Iran, sementara pejabat Iran juga melontarkan peringatan keras kepada Washington terkait potensi eskalasi konflik.

Selat Hormuz Jadi Faktor Kunci Pasar Energi

Pasar energi global sangat sensitif terhadap konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar di dunia.

Salah satu kekhawatiran utama adalah keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz, rute vital yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap harinya. Gangguan di jalur tersebut dapat memicu lonjakan harga energi global dalam waktu singkat.

Ketika konflik meningkat pada awal pekan, beberapa produsen minyak di kawasan Teluk dilaporkan memangkas produksi karena risiko keamanan dan hambatan distribusi. Situasi ini sempat memicu lonjakan harga minyak hingga di atas 100 dolar AS per barel.

Meski harga minyak turun tajam setelah pernyataan Trump, analis energi menilai pasar masih akan bergerak sangat fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan. Selama konflik di Timur Tengah belum benar-benar mereda, setiap perkembangan militer maupun pernyataan politik dapat langsung memicu gejolak baru di pasar energi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *