Iran Bantah Negosiasi dengan AS, Sikap soal Selat Hormuz Tidak Berubah

GEOSIAR.CO.ID 24 Maret 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id

JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Iran secara resmi membantah adanya negosiasi langsung dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir satu bulan di Timur Tengah. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan bantahan itu kepada kantor berita resmi IRNA pada Selasa, 24 Maret 2026. Pernyataan ini merespons klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut pembicaraan dengan Teheran berjalan “produktif,” sekaligus menegaskan bahwa posisi Iran mengenai Selat Hormuz tidak mengalami perubahan.

Trump Klaim Pembicaraan Produktif, Teheran Menepis

Trump menyatakan pada Senin, 23 Maret 2026, bahwa ia telah memerintahkan militer AS menunda serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari setelah mengadakan percakapan yang ia nilai “baik dan produktif” dengan Teheran. Ia mengeklaim pembicaraan tersebut akan berlanjut sepanjang pekan, meski tidak merinci siapa yang terlibat atau di mana pertemuan itu digelar.

Iran langsung menepis klaim itu. Baghaei menyatakan bahwa selama beberapa hari terakhir, pesan disampaikan melalui “negara-negara sahabat” yang mengindikasikan permintaan AS untuk bernegosiasi guna mengakhiri perang, dan Iran menanggapinya sesuai dengan “posisi prinsipnya.” Ia menegaskan bahwa tidak ada negosiasi maupun dialog langsung dengan AS yang terjadi selama 24 hari sejak pecahnya konflik.

Peringatan Keras soal Infrastruktur Energi

Baghaei memperingatkan adanya “konsekuensi serius” dari setiap serangan terhadap infrastruktur vital Iran, menegaskan bahwa setiap tindakan yang menargetkan fasilitas energi negara itu akan dibalas dengan respons yang “tegas, segera, dan efektif” oleh angkatan bersenjata Iran. Pernyataan ini muncul setelah Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka penuh.

Iran pun balik mengancam akan menutup Selat Hormuz sepenuhnya jika Trump menindaklanjuti ancamannya itu, sembari menyatakan kesiapan untuk menyerang infrastruktur energi, teknologi informasi, dan instalasi desalinasi AS di seluruh kawasan. Saling ancam antara kedua pihak ini semakin memanaskan situasi yang sudah kritis.

Selat Hormuz: Senjata Geopolitik Iran

Baghaei menegaskan bahwa posisi Iran mengenai Selat Hormuz dan syarat-syarat untuk mengakhiri perang tidak berubah. Teheran sebelumnya telah memberlakukan pembatasan selektif di jalur perairan strategis itu sejak awal Maret 2026.

Anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, dalam sebuah program televisi di IRIB pada Minggu, 22 Maret 2026, menyebut pihaknya tengah mempertimbangkan pemungutan biaya transit senilai 2 juta dolar AS bagi kapal yang melewati Selat Hormuz, dengan alasan perang memiliki biaya yang harus ditanggung. Namun pemerintah Iran kemudian menyatakan bahwa pernyataan Boroujerdi merupakan pandangan pribadi dan bukan kebijakan resmi Republik Islam Iran.

Selat Hormuz sendiri merupakan koridor maritim yang menangani sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global, dengan tiga perempat dari ekspor tersebut mengalir ke empat ekonomi utama Asia: Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Konflik Pecah sejak 28 Februari, Lebih dari 1.300 Tewas

Konflik ini berawal dari serangan gabungan AS dan Israel yang dilancarkan pada 28 Februari 2026, dengan tujuan yang dinyatakan Trump untuk menghancurkan kapasitas militer Iran, mencegah perolehan senjata nuklir, dan pada akhirnya menggulingkan rezim tersebut. Sejak saat itu, eskalasi terus berlangsung tanpa tanda-tanda mereda.

Teheran membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan. Hingga 24 Maret 2026, konflik ini telah merenggut lebih dari 1.340 nyawa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei yang tewas dalam serangan 28 Februari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *