20 Persen Impor Minyak Indonesia Melewati Selat Hormuz
“Atas dasar itu, Presiden semalam memerintahkan kepada saya dan tim untuk segera mencari pasokan-pasokan minyak kita dari hampir semua negara. Kemudian mengoptimalkan semua energi yang ada pada kita,” ujar Bahlil dalam keterangan kepada wartawan, Kamis (26/3/2026). Sebelum konflik, sekitar 20 persen impor minyak mentah Indonesia melewati jalur Selat Hormuz. Pemerintah telah melakukan pengalihan sumber pasokan ke wilayah lain untuk mengurangi risiko gangguan distribusi.
Cadangan minyak dalam tangki penyimpanan nasional saat ini berada pada kisaran minimal 21 hingga 24 hari. Namun Bahlil menegaskan pasokan bersifat dinamis karena setiap hari ada distribusi keluar dan masuk, seiring dengan upaya mengoptimalkan kilang-kilang domestik serta impor dari berbagai negara. Untuk solar, Indonesia sudah tidak lagi melakukan impor, sementara bensin masih bergantung pada impor sekitar 50 persen dan gas elpiji masih bergantung impor sekitar 70 persen dari total kebutuhan nasional.
Dua Kapal Tanker Masih Tertahan
Dua kapal tanker minyak milik Indonesia masih tertahan di kawasan Teluk Persia per 26 Maret 2026, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro. Pertamina Pride terdeteksi di perairan utara Kota Dammam, Arab Saudi, sementara Gamsunoro berada di dekat pesisir Kuwait dan Irak. Pertamina International Shipping memastikan kondisi ini tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri mengingat Pertamina Group mengoperasikan 345 kapal secara keseluruhan.
Etanol dan Biodiesel Didorong sebagai Energi Substitusi
Presiden Prabowo juga mengarahkan agar seluruh potensi energi domestik dioptimalkan demi mempercepat kemandirian energi nasional, termasuk pengembangan etanol dan biodiesel berbasis minyak kelapa sawit (CPO). Bahlil juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak, termasuk hal-hal sederhana seperti mematikan kompor setelah selesai memasak. Ia menegaskan ketahanan energi adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat, bukan semata urusan negara.