Jangan Biarkan Sikap Keluarga Rusak Momen Lebaran, Ini Cara Mengelola Emosi Menurut Psikolog
GEOSIAR.CO.ID 17 Maret 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID – Momen Lebaran yang seharusnya penuh kebahagiaan kerap berubah menjadi tantangan emosional ketika pertanyaan sensitif dari keluarga mulai bermunculan. Pertanyaan seperti “kapan menikah?”, “kerja di mana sekarang?”, atau komentar soal penampilan sering kali memicu rasa tidak nyaman bahkan amarah yang sulit dikendalikan.
Para psikolog mengingatkan pentingnya strategi pengelolaan emosi agar silaturahmi tetap bermakna tanpa meninggalkan luka batin. Dengan persiapan mental yang matang, momen Lebaran tetap bisa dinikmati sebagai perayaan kebersamaan yang sesungguhnya.
Kenali Pemicu Emosi Sebelum Berkumpul
Setiap orang memiliki hal-hal tertentu yang dapat memicu emosi negatif, seperti pertanyaan tentang kehidupan pribadi, karier, atau status pernikahan. Sebelum menghadiri acara keluarga, penting untuk mengidentifikasi hal-hal yang mungkin menimbulkan ketidaknyamanan agar lebih siap menghadapi situasi yang tidak diinginkan.
Psikolog dan dosen di Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Nur Islamiah, MPsi, PhD, menegaskan bahwa salah satu langkah penting dalam menghadapi pertanyaan sensitif dari keluarga adalah menetapkan batas psikologis atau psychological boundaries. Ia mengingatkan bahwa seseorang tidak memiliki kewajiban untuk menyenangkan semua orang, dan tidak harus selalu tersenyum atau melayani tamu sepanjang waktu jika hal itu menguras energi emosional.
Kelola Ekspektasi agar Tidak Mudah Kecewa
Stres saat berkumpul dengan keluarga sering muncul karena harapan bahwa pertemuan keluarga berjalan sempurna atau semua orang bersikap sesuai keinginan. Menyadari bahwa mungkin ada momen yang kurang menyenangkan justru akan membuat seseorang lebih tenang dan tidak mudah kecewa. Fokuslah pada cara merespons situasi, bukan pada upaya mengubah sikap orang lain.
Teknik Pernapasan untuk Meredakan Emosi yang Memuncak
Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Sutarimah Ampuni menekankan pentingnya mengelola emosi agar bisa terekspresikan secara wajar dan sehat. Ia mengingatkan bahwa emosi tidak seharusnya ditahan sepenuhnya karena dapat meledak sewaktu-waktu, namun juga tidak boleh diluapkan secara berlebihan hingga merugikan orang lain.
Saat emosi mulai memuncak, teknik pernapasan dalam dapat membantu menenangkan sistem saraf dan mencegah reaksi berlebihan. Tarik napas perlahan, tahan sejenak, lalu hembuskan perlahan. Jika memungkinkan, luangkan waktu untuk berjalan-jalan atau duduk di tempat yang lebih tenang agar pikiran kembali jernih dan emosi lebih terkendali.
Ambil Jarak dari Situasi Pemicu
Psikolog UGM Sutarimah Ampuni juga menyarankan strategi mengambil jarak dari emosi yang dirasakan ketika amarah mulai muncul. Alih-alih langsung mengekspresikan kemarahan, berdiam diri sejenak dan menyugesti diri untuk memberi kesempatan kepada tubuh dan pikiran untuk beristirahat dapat menjadi langkah yang efektif agar emosi negatif tidak menguasai suasana.
Jawab dengan Humor, Alihkan Pembicaraan
Psikolog klinis Veronica Adesla menyarankan agar pertanyaan yang tidak mengenakan dijawab dengan humor dan santai, misalnya saat ditanya soal jodoh bisa bercanda sambil meminta rekomendasi kenalan. Setelah menjawab singkat, segera alihkan pembicaraan pada topik lain yang menarik bagi lawan bicara agar pertanyaan tidak berlanjut lebih jauh.
Data dari platform kesehatan digital Halodoc menunjukkan bahwa tekanan relasi keluarga menjadi pemicu terbesar gangguan kecemasan selama Ramadan, dengan kontribusi sekitar 58 persen dari total konsultasi. Bayangan terhadap pertanyaan sensitif dapat memicu kecemasan bahkan sebelum pertemuan benar-benar terjadi, sehingga persiapan mental sejak dini menjadi kunci agar Lebaran tetap terasa menyenangkan.
www.geosiar.co.id

