Lebaran di Tenda: Kisah Para Ibu Korban Banjir Bandang yang Berjuang Belikan Baju Anak di Tengah Sisa Bencana

GEOSIAR.CO.ID 17 Maret 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id

MEDAN, GEOSIAR.CO.ID -Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, ratusan keluarga korban banjir bandang yang melanda 53 kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 masih bertahan di tenda pengungsian. Keinginan sederhana para ibu untuk membelikan baju Lebaran bagi anak-anak mereka menjadi perjuangan tersendiri di tengah keterbatasan yang masih membelit.

Di lokasi pengungsian Desa Batu Hula, Kabupaten Tapanuli Selatan, sedikitnya 113 kepala keluarga masih tinggal di dua tenda darurat hingga memasuki bulan keempat pascabencana, sementara hunian sementara yang dijanjikan pemerintah belum juga rampung.

“Mau Lebaran, Kami Masih di Tenda”

Masdiani Sitompul, ibu empat anak korban banjir bandang asal Garoga, Tapanuli Selatan, mengaku sudah jenuh tinggal berbulan-bulan di pengungsian dengan kondisi tenda berlantai tanah yang kerap kemasukan air saat hujan. “Kami ingin cepat pindah. Sudah capek di tenda, kalau hujan air masuk, lantainya tanah, takut anak-anak sakit,” keluhnya kepada wartawan di lokasi pengungsian Desa Batu Hula, Tapanuli Selatan.

Warga lain, Ahmad Daud, masih berduka karena ibunya hanyut saat banjir dan belum ditemukan, sementara kondisi makin berat karena rumah rusak dan lahan pertanian tertimbun pasir. Ia menyesalkan lambannya penanganan pemerintah menjelang hari raya. “Lambat kali pemerintah ini. Mau lebaran begini pun kami masih di tenda. Rumah hanyut, sawah pun rusak,” ujarnya kepada wartawan di lokasi pengungsian Desa Batu Hula, Tapanuli Selatan.

Berbagi Santunan demi Baju Lebaran Anak

Di Hunian Sementara (Huntara) Aceh Tamiang, pasangan Predy Sanjaya dan Tiara yang kehilangan rumah saat banjir bandang mengandalkan uang santunan yang diterima anaknya untuk membeli pakaian Lebaran. “Alhamdulillah dari uang santunan itulah kami bisa beliin anak baju buat lebarannya anak-anak,” ujar Tiara, korban banjir bandang di Huntara Aceh Tamiang, Senin (16/3).

Predy mengisahkan, yang paling menyayat hati saat bencana bukan soal rumah yang terendam, melainkan tangisan anak-anak di pengungsian. “Saya masih bisa tahan melihat rumah kami terendam banjir. Tapi yang paling tidak sanggup saya dengar adalah tangisan anak-anak di pengungsian. Suara tangisan mereka bersahut-sahutan. Mereka lapar, tapi saat itu bantuan belum ada yang sampai,” ungkap Predy, korban banjir bandang di Huntara Aceh Tamiang, Senin (16/3).

Kepedulian Warga dan Relawan Hadirkan Kebahagiaan

Di Kabupaten Bireuen, Aceh, para ibu dan anak-anak korban banjir yang masih mengungsi di halaman Kantor Pemerintahan Kabupaten Bireuen mendapat kesempatan berbelanja pakaian Lebaran di Suzuya Mall pada Minggu (15/3). Suasana haru dan bahagia terlihat dari wajah para pengungsi yang mendapatkan pakaian baru menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026.

“Kami sangat bersyukur kepada Allah SWT dan mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah membantu kami memenuhi kebutuhan pakaian baru untuk menyambut Lebaran,” ujar Suratin, pengungsi korban banjir Bireuen yang hadir bersama dua anaknya, di lokasi pengungsian Bireuen, Minggu (15/3).

Huntara Belum Rampung, Pengungsi Harap Selesai Sebelum Lebaran

Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda 53 kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 mengakibatkan 1.204 jiwa meninggal dan 104 orang masih dinyatakan hilang hingga Februari 2026. Ribuan keluarga kehilangan rumah, mata pencaharian, dan kepastian tempat tinggal.

BPBD Tapanuli Selatan menyatakan pembangunan huntara hampir rampung dan tinggal menunggu pemasangan listrik. “Informasinya tinggal pemasangan listrik. Mudah-mudahan sebelum lebaran sudah bisa ditempati,” kata Idam Halid Pulungan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Tapanuli Selatan, kepada wartawan di Tapanuli Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *