Maruarar Debat dengan Hercules soal Lahan Negara di Tanah Abang, Bermula dari Blusukan Prabowo ke Bantaran Rel Senen

GEOSIAR.CO.ID 7 April 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id

JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Pada 26 Maret 2026, Presiden Prabowo Subianto blusukan ke permukiman di bantaran rel kereta api Senen, Jakarta Pusat, dan berjanji langsung kepada warga untuk membangun hunian layak. “Mendengar aspirasi masyarakat di sana, insyaallah kita akan segera membangun hunian yang layak untuk masyarakat di daerah tersebut dengan cepat,” ujar Prabowo, yang video blusukannya mendapat lebih dari 123.000 suka di Instagram dalam satu hari.

Maruarar Tinjau Lahan Negara di Tanah Abang, GRIB Jaya Sudah Lebih Dulu di Sana

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mendatangi lahan kosong milik negara di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang selama ini dikuasai Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya. Lahan seluas 1,6 hektare milik PT Angkasa Pura itu sedianya digunakan untuk membangun rumah susun bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Di sana, Maruarar berhadapan langsung dengan Ketua Umum GRIB Jaya Rosario de Marshall alias Hercules, dan perdebatan keduanya terekam kamera. “Tujuan saya mau membangun untuk rumah rakyat di sini. Jadi bukan untuk pengembang, dan sebagainya,” ucap Maruarar saat bertemu Hercules, dikutip pada Senin, 6 April 2026.

324 Unit Rusun Senen Mulai Dibangun, Dijadwalkan Selesai 15 Juni 2026

Maruarar menyatakan pembangunan 324 unit rumah susun di kawasan Senen telah dimulai atas arahan langsung Presiden Prabowo. “Kalau yang di Senen itu akan jadi 15 Juni. Berarti dua bulan lagi, 15 Juni 2026,” ujar Maruarar di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 6 April 2026. Selain rusun Senen, PT Kereta Api Indonesia juga mempersiapkan sekitar 500 unit hunian di kawasan Kramat sebagai bagian dari respons pemerintah atas janji Presiden.

Warga Digusur Sebelum Rusun Jadi, Skema Hunian Sementara Belum Jelas

Meski pembangunan telah dimulai, sejumlah warga yang digusur dari bantaran rel Senen pada 27 Maret 2026 mengaku belum mendapat kejelasan soal skema hunian sementara selama masa konstruksi. Beberapa warga kembali membangun lapak di pinggir rel karena tidak punya tempat tinggal alternatif yang terjangkau. Maruarar belum menyampaikan batas waktu penyelesaian mekanisme relokasi sementara bagi warga terdampak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *