Naik 1 Dolar, Negara Bisa Tambah Beban Rp10 Triliun
Indonesia masih mengimpor 60 hingga 70 persen kebutuhan minyaknya dari luar negeri, sementara produksi domestik terus menyusut di kisaran 600 ribu barel per hari. Kondisi itu membuat setiap gejolak harga global langsung menghantam fiskal.
Pengamat otomotif Martinus Pasaribu menghitung, setiap kenaikan harga minyak satu dolar per barel mendorong pembengkakan subsidi dan kompensasi energi antara Rp8 hingga Rp10 triliun. Jika harga bertahan di atas 100 dolar per barel, total belanja subsidi energi berpotensi kembali mendekati atau melampaui Rp300 triliun per tahun seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu.
Listrik 60 Persen Lebih Hemat dari Bensin
Di sinilah kendaraan listrik masuk sebagai solusi jangka panjang. Biaya energi kendaraan listrik rata-rata hanya Rp300 hingga Rp500 per kilometer, berbanding jauh dengan kendaraan berbahan bakar bensin yang bisa mencapai Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilometer.
Jika kombinasi satu juta mobil listrik dan lima juta motor listrik beroperasi, potensi penghematan impor mencapai tiga juta kiloliter bahan bakar minyak per tahun, setara penghematan devisa Rp30 hingga Rp40 triliun. Presiden Prabowo Subianto sendiri telah memaparkan rencana besar konversi semua lini kendaraan dari bensin ke tenaga listrik dan menyebutnya sebagai “our game changer.”
INDEF: Ini Bukan Pilihan, Ini Keharusan
Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov, menegaskan momentum krisis harga minyak saat ini seharusnya menjadi titik balik yang tidak boleh dilewatkan. “Lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik membuktikan bahwa ketergantungan yang tinggi terhadap BBM berbasis impor merupakan risiko utama bagi stabilitas fiskal dan ketahanan energi nasional,” kata Abra, Jumat (13/3/2026).
Penjualan kendaraan listrik sepanjang 2025 justru tumbuh positif di tengah pasar otomotif nasional yang terkontraksi sekitar 10 persen, membuktikan minat konsumen terhadap kendaraan listrik tidak surut meski kondisi ekonomi sedang tertekan. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah mempercepat ketersediaan infrastruktur pengisian daya dan memastikan insentif fiskal pemerintah berjalan konsisten.