Pelaku UKM: Kompor Listrik Lebih Hemat dari Gas di Tengah Lonjakan Harga Energi

GEOSIAR.CO.ID 28 Maret 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id

JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Kalangan pelaku usaha kecil dan menengah yang telah beralih ke kompor induksi menyatakan efisiensi biaya operasional menjadi keunggulan nyata di tengah tekanan lonjakan harga energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Andi Arif, pemilik usaha martabak di Jakarta, mengungkapkan kenaikan tagihan listrik akibat penggunaan kompor induksi hanya sekitar Rp30.000 per bulan, jauh lebih terjangkau dibandingkan pengeluaran rutin untuk pengisian tabung gas yang terus merangkak naik. Pernyataan itu disampaikan terkait wacana program kompor listrik bersubsidi yang akan kembali diterapkan pemerintah di tengah eskalasi harga energi global.

Usaha Katering Ikut Rasakan Penghematan Nyata

Siti Sarah (45), pelaku usaha katering rumahan, merasakan sendiri dampak positif peralihan ke kompor listrik terhadap efisiensi dan produktivitas usahanya, saat ditemui di Jakarta, 27/3. Ia menyebut biaya produksi menjadi jauh lebih stabil sehingga keuntungan dari setiap pesanan bisa dimaksimalkan dibandingkan saat masih mengandalkan LPG. “Sejak pakai kompor listrik, pengeluaran untuk energi masak jadi lebih stabil dan murah, sisa uangnya bisa buat tambahan modal bahan baku. Masaknya juga lebih cepat dan bersih, saya jadi lebih produktif terima banyak pesanan tiap hari,” ujarnya.

Hevy Prasmawati, ibu rumah tangga pengguna kompor induksi, mengapresiasi fitur panas yang lebih merata dan stabil dibandingkan kompor gas konvensional. Ia juga menyoroti keunggulan fitur pintar seperti mode otomatis untuk menggoreng hingga mengukus yang memberikan kemudahan sekaligus rasa aman lebih bagi penghuni rumah. Meski dayanya sekitar 1.300 watt, penggunaan alat masak berbahan komposit yang dirancang khusus untuk induksi justru mempercepat proses pematangan sehingga konsumsi daya tetap terkendali.

MPR: Transisi ke Kompor Listrik Lebih Murah dari Subsidi LPG

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyatakan pihaknya telah menghitung bahwa biaya transisi ke kompor listrik secara nasional masih lebih rendah dibandingkan beban subsidi impor LPG yang harus ditanggung negara setiap tahun, saat dihubungi dari Jakarta, 23/3. Biaya transisi yang diperhitungkan mencakup pemberian kompor listrik, dua alat masak berbahan komposit, serta pemasangan sambungan listrik terpisah secara gratis kepada setiap rumah tangga penerima. “Kami sudah hitung, masih akan lebih murah daripada mengimpor LPG,” ujar Eddy.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebelumnya juga menyebut kompor listrik sebagai alternatif yang bisa dipertimbangkan masyarakat di tengah melonjaknya harga minyak global, dalam konferensi pers di Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, 26/3. Ia mengimbau masyarakat agar tidak boros menggunakan LPG dan langsung mematikan kompor gas begitu masakan selesai. Dorongan dari sisi kebijakan dan pengalaman nyata pelaku usaha ini memperkuat iklim yang kondusif bagi percepatan transisi memasak dari gas ke listrik di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *