Penelitian Nature: 132 Juta Orang Lebih Terancam Banjir Rob, Ilmuwan Selama Ini Pakai Data Permukaan Laut yang Keliru
GEOSIAR.CO.ID 11 Maret 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id
MEDAN, GEOSIAR.CO.ID – Ada yang salah dalam cara ilmuwan selama ini menghitung ancaman kenaikan permukaan laut. Bukan pada metode proyeksinya, bukan pada model iklimnya, melainkan pada sesuatu yang lebih mendasar: titik awal pengukurannya.
Studi yang dimuat dalam jurnal Nature pada 9 Maret 2026 menemukan bahwa sembilan dari sepuluh penelitian tentang kenaikan muka air laut yang terbit antara 2009 hingga 2025 menggunakan angka ketinggian permukaan laut yang lebih rendah dari kenyataan. Total ada 385 studi yang diperiksa ulang, dan hasilnya menunjukkan bahwa selama lebih dari satu dekade, kalkulasi risiko banjir pesisir global dibangun di atas data yang keliru.
Philip Minderhoud, peneliti dari Wageningen University di Belanda dan salah satu penulis studi ini, pertama kali curiga saat bekerja di Delta Mekong, Vietnam. Permukaan air di sana jauh lebih tinggi dibanding angka yang tertera dalam model-model global. Kejanggalan itu mendorongnya memeriksa ratusan penelitian sebelumnya secara sistematis.
Laut Sungguhan Tidak Sesederhana Model Komputer
Selama ini para ilmuwan banyak mengandalkan model geoidal dalam memperkirakan ketinggian permukaan laut. Model ini bekerja berdasarkan medan gravitasi bumi dan rotasinya, menggambarkan kondisi lautan dalam keadaan ideal tanpa gangguan apapun.
Masalahnya, laut tidak pernah berada dalam kondisi ideal. Pasang surut, arus, angin pasat, suhu, dan kadar garam semuanya ikut menentukan seberapa tinggi air laut pada titik tertentu, dan model geoidal tidak memasukkan satu pun dari faktor-faktor itu.
Ketika Minderhoud dan timnya mengganti model tersebut dengan data satelit yang mengukur ketinggian laut secara langsung, perbedaannya nyata. Permukaan laut pesisir dunia rata-rata sudah 30 sentimeter lebih tinggi dari yang selama ini diasumsikan. Di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik, selisihnya bisa melampaui 90 sentimeter.
132 Juta Orang yang Luput dari Proyeksi
Kesalahan titik ukur ini langsung memengaruhi berapa banyak orang yang sesungguhnya berisiko terdampak ketika permukaan laut terus naik.
Studi ini menghitung bahwa bila permukaan laut naik 90 sentimeter dari rata-rata periode 1995-2014, yang diperkirakan bisa terjadi pada pertengahan abad ini tergantung seberapa cepat emisi karbon dapat ditekan, sebanyak 132 juta orang lebih banyak dari proyeksi sebelumnya akan terdampak. Luas daratan yang terancam tergenang pun bertambah 37 persen dibanding hitungan lama.
Asia Tenggara berada di garis terdepan ancaman ini. Indonesia, Vietnam, dan Filipina, bersama negara-negara kepulauan kecil di Pasifik, menjadi wilayah dengan kesenjangan data terbesar sekaligus paling rentan terhadap dampaknya.
Penting untuk Perundingan Iklim Internasional
Temuan ini juga relevan bagi negara-negara berkembang yang selama ini mendesak negara-negara industri besar untuk memangkas emisi dan membayar ganti rugi atas kerusakan yang sudah mereka alami. Data yang lebih akurat memberi dasar ilmiah yang lebih kuat bagi tuntutan tersebut.
Namun tidak semua pihak menilai studi ini langsung mengubah cara adaptasi di tingkat lokal. Bob Kopp, profesor ilmu bumi dari Rutgers University yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan bahwa perencana tata ruang pesisir yang baik umumnya sudah menggunakan pengukuran langsung di lapangan, bukan bergantung pada model global semata.
Minderhoud tidak membantah hal itu, namun menegaskan bahwa gambaran global yang menjadi rujukan kebijakan iklim internasional perlu diperbarui. Bagi penduduk di kawasan pesisir rendah, termasuk di Indonesia, studi ini menegaskan bahwa ancaman kenaikan air laut lebih luas dari yang selama ini diperkirakan.
www.geosiar.co.id

