Purbaya mengakui sering lupa menegaskan hal tersebut kepada publik, sehingga kebijakan-kebijakan kementerian terkesan diambil secara mandiri. “Itu semua dikerjakan setelah mendapat arahan dari Pak Presiden. Jadi saya itu cuma tangannya Presiden saja,” kata Purbaya di Kementerian Keuangan, Selasa (7/4/2026).
Simulasi Skenario Harga Minyak US$80 hingga US$100
Pemerintah telah menyusun simulasi kebijakan dengan berbagai asumsi harga minyak dunia, mulai dari US$80 hingga US$100 per barel, dan memastikan BBM subsidi aman tidak naik hingga akhir tahun bahkan dalam skenario harga minyak rata-rata US$100 per barel. Kalkulasi itu juga memperhitungkan dampaknya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara menyeluruh, termasuk potensi pelemahan nilai tukar rupiah yang setiap Rp100 per dolar AS dapat menambah defisit sekitar Rp0,8 triliun.
Hasil simulasi menunjukkan APBN masih cukup kuat menahan tekanan, dengan defisit tetap dapat dijaga di kisaran 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Keputusan itu juga mendapat persetujuan dari Komisi XI DPR setelah dilakukan perhitungan detail ketahanan APBN bersama jajaran Kementerian Keuangan.
SAL Rp 420 Triliun Jadi Dana Cadangan Utama
Selain mengandalkan APBN, pemerintah memiliki dana cadangan berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai Rp 420 triliun, di mana sekitar Rp 200 triliun saat ini ditempatkan di perbankan dan siap digunakan apabila tekanan fiskal meningkat. Potensi kenaikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sektor Energi dan Sumber Daya Mineral dari lonjakan harga komoditas global juga masuk dalam kalkulasi anggaran pemerintah.
Purbaya membantah isu yang beredar bahwa anggaran negara hanya mampu bertahan dua minggu sebelum BBM terpaksa naik. Ia memastikan ketahanan fiskal sudah disiapkan hingga akhir tahun. “Ingin menegaskan lagi: harga BBM subsidi tidak akan naik sampai akhir tahun dan anggaran saya cukup,” tegas Purbaya dalam konferensi pers, Senin (6/4/2026).