Sebelum Serangan Jantung Datang, Ada Tanda yang Bisa Dibaca Lewat Kalsium di Arteri
GEOSIAR.CO.ID 30 Maret 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Penyakit jantung koroner membunuh tanpa banyak bicara. Sebagian besar penderitanya tidak merasakan gejala apapun hingga serangan datang tiba-tiba, dan saat itulah semuanya sudah terlambat. Di sinilah kalsifikasi arteri koroner menjadi penting untuk dipahami sebagai alat deteksi sebelum bencana terjadi.
Fakta ini kembali mengemuka saat Prof. Dr. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC, FASCC, FSCAI dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Jantung dan Pembuluh Darah di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan pada Sabtu (28/3/2026). Dalam orasi ilmiahnya, ia menegaskan kalsifikasi koroner bukan sekadar temuan radiologis melainkan “jendela” untuk melihat seberapa tua kondisi biologis arteri seseorang, bahkan sebelum keluhan apapun muncul.
Penumpukan Kalsium di Arteri Bukan Hal Biasa
Kalsifikasi koroner terjadi ketika kalsium menumpuk pada dinding arteri koroner, biasanya seiring bertambahnya usia atau akibat faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi. Kondisi ini merupakan bagian dari proses aterosklerosis, di mana lemak, kolesterol, dan zat lain perlahan-lahan menyempitkan pembuluh darah jantung sampai aliran darah terganggu.
Dengan pemeriksaan CT scan non-invasif yang menghasilkan Coronary Artery Calcium Score (CAC Score), dokter dapat mengukur tingkat kalsifikasi dan mengelompokkan pasien berdasarkan risiko serangan jantung. Nilai nol berarti risiko rendah, sementara nilai di atas 400 menandakan kalsifikasi berat yang perlu penanganan serius.
Kecerdasan Buatan Buka Peluang Skrining Lebih Luas
Prof. Antonia menyoroti peluang penggunaan kecerdasan buatan untuk memperluas jangkauan pemeriksaan kalsifikasi koroner secara lebih efisien, khususnya di negara seperti Indonesia yang keterbatasan sumber dayanya berbanding terbalik dengan beban penyakit jantung yang terus meningkat.
“Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, membuka peluang baru dalam menjadikan kalsifikasi koroner sebagai alat skrining yang lebih luas dan efisien. Namun, penerapannya harus tetap mempertimbangkan konteks lokal,” kata Prof. Antonia dalam orasi ilmiahnya di FK UPH, Sabtu (28/3/2026). Ia adalah Guru Besar ke-45 di UPH.
Mulai Skrining Jantung di Usia 40
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Dr. dr. Iwan Dakota, Sp.JP(K), MARS, Direktur Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, menganjurkan masyarakat menjalani skrining jantung minimal sekali setahun saat memasuki usia 40 tahun. Ia mengingatkan bahwa penyakit jantung kini tidak lagi identik dengan usia lanjut karena pasien-pasien muda dengan serangan jantung semakin banyak ditemukan.
Faktor risiko utama yang harus dikendalikan sejak dini mencakup tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, diabetes, kegemukan, dan gaya hidup minim gerak. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia sendiri melonjak tajam ke angka 1,08 persen pada 2023, naik lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir.
www.geosiar.co.id

