Studi Buktikan Tidur Lebih Menentukan Umur Panjang Dibanding Diet dan Olahraga
GEOSIAR.CO.ID 11 Maret 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id
MEDAN, GEOSIAR.CO.ID – Bertahun-tahun, pesan kesehatan yang paling sering terdengar selalu berkisar pada dua hal: makan sehat dan rajin olahraga. Tidur kerap dianggap sekadar pelengkap, sesuatu yang bisa ditunda atau dipotong ketika jadwal padat.
Sebuah penelitian dari Oregon Health & Science University (OHSU), Amerika Serikat, menantang asumsi itu. Studi yang terbit di jurnal Sleep Advances pada Desember 2025 menemukan bahwa kurang tidur memiliki korelasi yang lebih kuat dengan pendeknya usia dibanding pola makan buruk, kurang gerak, maupun kesepian. Dari semua faktor gaya hidup yang diteliti, hanya merokok yang dampaknya lebih besar.
“Saya tidak menduga korelasinya sekuat ini terhadap harapan hidup,” ujar Andrew McHill, Ph.D., associate professor di OHSU School of Nursing, School of Medicine, dan Oregon Institute of Occupational Health Sciences, sekaligus penulis senior studi ini. “Kita selalu tahu tidur itu penting, tapi penelitian ini benar-benar menegaskannya: orang sebaiknya berusaha tidur tujuh sampai sembilan jam setiap malam jika memungkinkan.”
Data dari Seluruh Amerika, Tahun demi Tahun
Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, tim peneliti yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa pascasarjana di Sleep, Chronobiology and Health Laboratory OHSU menganalisis basis data nasional skala besar. Mereka membandingkan angka harapan hidup di tingkat kabupaten di seluruh Amerika Serikat dengan data survei yang dikumpulkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) antara 2019 hingga 2025.
Ini merupakan penelitian pertama yang menunjukkan korelasi tahun per tahun antara durasi tidur dan harapan hidup di setiap negara bagian Amerika. Hasilnya konsisten: di hampir semua negara bagian dan di setiap tahun yang dianalisis, daerah dengan tingkat kurang tidur lebih tinggi memiliki angka harapan hidup yang lebih rendah.
Ambang batas yang digunakan mengacu pada rekomendasi American Academy of Sleep Medicine dan Sleep Research Society, yakni minimal tujuh jam tidur per malam.
Bahkan Penelitinya Terkejut
McHill mengaku hasil penelitian ini melampaui ekspektasinya sendiri. Sebagai ahli fisiologi tidur, ia memang sudah lama memahami pentingnya tidur bagi kesehatan. Namun besarnya pengaruh tidur dibanding faktor gaya hidup lain tetap membuatnya terkesan.
“Secara intuitif ini masuk akal, tapi tetap mengejutkan melihatnya muncul sekuat ini di semua model yang kami bangun,” katanya.
Studi ini bersifat observasional dan tidak meneliti alasan biologis di balik hubungan tersebut. Namun McHill mencatat bahwa tidur diketahui berpengaruh besar pada kesehatan jantung, sistem kekebalan tubuh, dan fungsi otak, tiga faktor yang semuanya terkait erat dengan umur panjang.
Tidur Bukan Kemewahan
McHill menegaskan bahwa sudah saatnya masyarakat menempatkan tidur setara dengan diet dan olahraga dalam daftar prioritas kesehatan, bukan sebagai sesuatu yang bisa dikorbankan saat sibuk.
“Kadang kita menganggap tidur sebagai sesuatu yang bisa ditunda atau dilakukan nanti di akhir pekan,” ujarnya. “Tidur yang cukup akan membuat Anda merasa lebih baik hari ini, sekaligus memperpanjang hidup Anda.”
Penelitian ini didukung pendanaan dari National Heart, Lung, and Blood Institute di bawah National Institutes of Health Amerika Serikat.
www.geosiar.co.id

