Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengungkapkan bahwa subsidi bulanan nasional untuk bahan bakar jenis RON 95 dan solar telah melonjak dari 700 juta ringgit menjadi 3,2 miliar ringgit, setara kenaikan dari sekitar Rp 2,9 triliun menjadi Rp 13,6 triliun. Pemicu utamanya adalah gangguan pada jalur Selat Hormuz, yang menjadi lintasan bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
“Dalam waktu kurang dari seminggu, harga minyak global melonjak dari sekitar 70 dolar Amerika Serikat menjadi hampir 120 dolar Amerika Serikat per barel,” ungkap Anwar Ibrahim, seperti dikutip dari South China Morning Post, Kamis (25/3/2026). Lonjakan tersebut terjadi seiring eskalasi militer yang mengguncang stabilitas pasokan energi dari kawasan Teluk Persia.
Malaysia Penghasil Minyak yang Tetap Bergantung Impor
Meski menjadi negara penghasil minyak, Malaysia justru lebih banyak mengimpor daripada mengekspor energi. Berdasarkan data tahun lalu, Malaysia mengekspor minyak senilai 5,5 miliar dolar Amerika Serikat, namun harus mengimpor hingga 12,6 miliar dolar Amerika Serikat, sehingga terjadi kekurangan lebih dari 7 miliar dolar Amerika Serikat.
“Malaysia memang menghasilkan minyak, tetapi kita juga mengimpor lebih banyak minyak daripada yang kita ekspor,” tegas Anwar. Fakta ini membuat Malaysia rentan terhadap gejolak harga global meskipun memiliki kapasitas produksi sendiri.
Rakyat Dilindungi, Anggaran Tergerus
Anwar menjelaskan bahwa minyak mentah yang diimpor tidak dapat langsung digunakan karena masih memerlukan proses penyulingan, transportasi, dan asuransi yang semuanya juga ikut meroket saat perang pecah. Kenaikan biaya-biaya ini berpotensi mengganggu harga transportasi, pangan, hingga pengeluaran rumah tangga warga Malaysia.
“Di masa-masa sulit ini, Malaysia memilih untuk menyerap sebagian dari tekanan biaya global demi melindungi rakyat,” kata Anwar Ibrahim. Ia menyatakan optimismenya bahwa Malaysia mampu melewati tekanan ini, sebagaimana pernah dilakukan pada krisis-krisis sebelumnya.