“Hasil ini masih konsisten dengan persepsi survei sebelumnya pada Oktober dan Maret 2025, menunjukkan bahwa setelah tiga survei berturut-turut dalam rentang 18 bulan, para ahli masih meyakini bahwa kondisi perekonomian Indonesia tidak kunjung membaik,” tulis tim LPEM FEB UI dalam laporan Survei Ahli Ekonomi Semester I 2026, Senin (15/3).
Inflasi Meningkat, Pasar Kerja Melemah
Tekanan inflasi menjadi kekhawatiran terbesar dalam survei ini. Sebanyak 57 ekonom atau 67 persen menyebut inflasi meningkat dibandingkan tiga bulan lalu, dengan rata-rata penilaian mencapai angka positif 0,71. Inflasi bulanan Indonesia sendiri tercatat sebesar 0,68 persen pada Februari 2026, dengan inflasi tahunan di angka 4,76 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik.
Kondisi pasar tenaga kerja juga dinilai melemah. Sebanyak 44 ekonom atau 56 persen menilai pasar kerja lebih ketat dibandingkan tiga bulan lalu. “Melemahnya pasar tenaga kerja umumnya menjadi pertanda meningkatnya pengangguran dan terhambatnya pertumbuhan upah, yang menekan pendapatan rumah tangga di seluruh penjuru negeri,” tulis tim LPEM FEB UI.
Lingkungan Bisnis dan Korupsi Jadi Sorotan
Dalam aspek lingkungan bisnis, 38 ekonom atau 45 persen menilai kondisinya memburuk, sementara 14 ekonom atau 16 persen bahkan menyebut situasinya jauh lebih buruk dibandingkan periode sebelumnya. Pengendalian korupsi menjadi indikator dengan nilai terendah di seluruh survei, yakni minus 1,14, dengan tingkat keyakinan responden tertinggi sebesar 8,40 dari skala 10. Survei ini dilaksanakan secara daring pada 24 Februari hingga 9 Maret 2026, dengan 85 responden dari kalangan akademisi, lembaga penelitian, sektor swasta, dan organisasi multinasional di dalam dan luar negeri.