Kepala BGN Akui Pencuci Piring MBG Bergaji Rp 3,5 Juta, Lebih Tinggi dari Guru Honorer
GEOSIAR.CO.ID 4 Mei 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id
MAKASSAR, GEOSIAR.CO.ID –Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengakui pihaknya menerima protes karena gaji petugas pencuci piring atau ompreng di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai Rp 2,4 juta hingga Rp 3,5 juta per bulan.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pendapatan guru honorer yang berada di kisaran Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu per bulan. Pengakuan disampaikan dalam kunjungan ke Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Selasa (28/4/2026), saat meresmikan dapur MBG Unhas.
Petugas dapur MBG bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Standar upah di SPPG diberikan jauh di atas rata-rata pendapatan guru honorer di Indonesia.
“Makanya kita diprotes oleh banyak pihak karena lebih tinggi gaji karyawan, pencuci piringnya, omprengnya lebih tinggi dibanding guru honorer. Mereka (pencuci piring) bergaji Rp2,4 hingga Rp3,5 juta per bulan, guru mungkin hanya rata-rata Rp600-Rp800 ribu,” kata Dadan Hindayana di Kampus Unhas, Makassar, Selasa (28/4/2026).
Dadan menjelaskan BGN secara sengaja merekrut relawan SPPG dari kelompok masyarakat kategori desil 1 hingga 4. Mereka adalah warga yang datanya terdaftar dalam Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Kelompok relawan tersebut sebelumnya memiliki riwayat penghasilan rendah. Banyak di antaranya berpenghasilan di bawah Rp 1 juta per bulan sebelum direkrut menjadi pekerja SPPG.
Dadan mengeklaim kebijakan pengupahan tersebut efektif mendongkrak pendapatan masyarakat ekonomi lemah. Ia menyebut program MBG memberikan kontribusi nyata terhadap penurunan angka kemiskinan ekstrem.
“Alhamdulillah mereka sekarang sudah mulai meningkat pendapatannya, angka kemiskinan ekstrem mulai turun karena hampir 40 persen relawan yang bekerja di SPPG berasal dari desil 1-4,” kata Dadan.
Anggaran BGN tahun 2026 mencapai Rp 268 triliun. Dengan jumlah anggaran tersebut, BGN menjadi salah satu lembaga dengan pagu anggaran terbesar di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Sebagaimana dilaporkan Tribun-Timur, pernyataan Dadan disampaikan dalam pemaparan yang berlangsung sebelum peresmian dapur MBG di lingkungan Unhas. Peresmian tersebut menandai masuknya program MBG ke kawasan kampus.
Pernyataan Dadan menuai sorotan publik di media sosial sepanjang akhir April hingga awal Mei 2026. Sejumlah pihak menilai disparitas upah antara petugas SPPG dan guru honorer mencerminkan ketimpangan kebijakan kesejahteraan tenaga pendidik nasional.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, sebagian besar guru honorer di Indonesia masih menerima upah di bawah upah minimum kabupaten/kota. Banyak guru honorer mengandalkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) atau pungutan komite sekolah sebagai sumber penghasilan utama.
www.geosiar.co.id

