Abu Vulkanik Anak Krakatau Berbahaya bagi Pesawat
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA,GEOSIAR.CO.ID -Erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah menjadi perhatian dunia penerbangan. Penundaan hingga pembatalan penerbangan dilakukan bukan tanpa alasan, melainkan sebagai langkah keselamatan karena abu vulkanik memiliki risiko serius terhadap pesawat.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dr. Daryono menjelaskan, abu vulkanik berbeda dengan awan biasa. Material tersebut mengandung pecahan batuan berukuran sangat kecil, silika (SiO₂), serta kristal mineral tajam yang bersifat abrasif.
“Abu vulkanik sangat berbahaya bagi penerbangan karena mengandung fragmentasi kaca silika dan mineral mikroskopis tajam yang dapat merusak komponen pesawat,” ujar Daryono dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, saat pesawat melaju dengan kecepatan tinggi, partikel abu vulkanik dapat mengikis permukaan kaca kokpit hingga mengganggu jarak pandang pilot. Selain itu, material tersebut juga dapat merusak sensor penting seperti pitot tube yang berfungsi mengukur kecepatan udara pesawat.
Abu Vulkanik Bisa Meleleh di Mesin Jet
Ancaman terbesar terjadi ketika abu vulkanik masuk ke dalam mesin turbofan. Suhu ruang pembakaran mesin jet yang sangat tinggi dapat membuat partikel silika dalam abu mengalami pelelehan.
Daryono menjelaskan, suhu ruang bakar mesin pesawat dapat mencapai sekitar 1.400 hingga 2.000 derajat Celsius, sementara silika dalam abu vulkanik dapat meleleh pada suhu sekitar 1.100 derajat Celsius.
Partikel yang meleleh kemudian dapat mengalir dan membeku kembali pada bagian turbin yang lebih dingin. Endapan tersebut membentuk lapisan seperti kaca yang berpotensi menghambat aliran udara dan mengganggu kinerja bilah turbin.
Dalam kondisi tertentu, gangguan ini dapat menyebabkan mesin kehilangan tenaga hingga terjadi engine stall atau flameout (mesin mati akibat hilangnya pembakaran).
Mengganggu Sistem Pesawat dan Navigasi
Bahaya abu vulkanik tidak hanya terbatas pada mesin. Gesekan partikel abu juga dapat menghasilkan listrik statis yang mengganggu sistem komunikasi serta instrumen penerbangan.
Fenomena pelepasan listrik statis bahkan dapat menimbulkan cahaya yang dikenal sebagai St. Elmo’s Fire di sekitar kaca kokpit.
Selain itu, kandungan asam pada abu vulkanik dapat meningkatkan risiko korosi pada komponen tertentu serta berpotensi mencemari sistem pendingin udara pesawat.
Karena karakteristik tersebut, abu vulkanik tidak dapat diperlakukan seperti awan hujan biasa yang bisa diterobos pesawat.
Pernah Membuat Empat Mesin Pesawat Mati
Risiko abu vulkanik terhadap penerbangan pernah terjadi dalam sejarah. Pada 24 Juni 1982, pesawat British Airways Penerbangan 9 yang melintasi wilayah udara terdampak erupsi Gunung Galunggung, Jawa Barat, mengalami kegagalan pada seluruh empat mesinnya.
Pesawat Boeing 747 tersebut kehilangan daya setelah abu vulkanik masuk ke mesin dan menyebabkan material silika membeku pada bagian turbin.
Beruntung, pesawat berhasil keluar dari kawasan abu vulkanik dan mesin dapat dinyalakan kembali sebelum melakukan pendaratan darurat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Enam Bandara Ditutup Sementara
Sementara itu, AirNav Indonesia memperbarui informasi terkait kondisi ruang udara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan pemantauan BMKG, sebaran abu vulkanik telah meluas hingga wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.
AirNav mencatat enam bandara berstatus CLOSED sementara akibat terdampak abu vulkanik, yakni:
- Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK)
- Bandara Halim Perdanakusuma (HLP)
- Bandara Radin Inten II Lampung (TKG)
- Bandara Husein Sastranegara Bandung (BDO)
- Bandara Budiarto Curug (RTO)
- Bandara Pondok Cabe (PCB)
Penutupan dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk menjaga keselamatan penerbangan dengan mempertimbangkan kondisi ruang udara yang terdampak abu vulkanik. Bagi penumpang pesawat, perubahan jadwal atau pembatalan penerbangan dalam situasi seperti ini bukan sekadar masalah operasional maskapai. Keputusan tersebut diambil karena abu vulkanik dapat membahayakan mesin, sistem pesawat, hingga keselamatan seluruh penerbangan.
