Tokoh Lintas Iman Hadiri Peluncuran Buku Perjuangan Sang Musafir Karya Pastor Kapusin Medan
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Tokoh lintas agama menghadiri peluncuran dan bedah buku Perjuangan Sang Musafir: Refleksi, Kepedulian dan Gerakan Merawat Rumah Bersama yang digelar Yayasan Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Ordo Kapusin Provinsi Medan bersama Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara (IKKSU) Jabodetabek di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Buku yang ditulis Pastor Walden Sitanggang, OFMCap, dan Pastor Supriyadi Pardosi, OFMCap, bersama para pastor, frater, dan suster yang terlibat dalam pendampingan masyarakat adat di kawasan Tapanuli Raya itu mengangkat refleksi tentang kepedulian terhadap lingkungan dan perjuangan merawat bumi sebagai rumah bersama.
Anggota DPR RI periode 2019–2024, Hendrik H. Sitompul, mengapresiasi penerbitan buku tersebut. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dan kerja sama berbagai elemen masyarakat.
“Merawat bumi adalah tanggung jawab kita bersama. Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok tertentu, tetapi membutuhkan kepedulian seluruh masyarakat. Hutan, sumber air, dan alam harus kita jaga agar tetap memberikan kehidupan bagi generasi mendatang,” ujar Hendrik.
Ia menilai, pesan yang disampaikan melalui buku tersebut penting untuk mendorong masyarakat semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan, termasuk dalam mendukung perlindungan hutan dan masyarakat adat.
“Perbedaan agama dan latar belakang tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja bersama menjaga lingkungan. Justru melalui kerja sama lintas iman, kita dapat membangun kepedulian dan melakukan langkah konkret untuk merawat bumi,” katanya.
Peluncuran buku tersebut dihadiri Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Dr. Darwin Darmawan, serta mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup periode 2004–2009, Alexander Sonny Keraf.
Ketua Yayasan KPKC, Pastor Moses Situmorang, OFMCap, memaparkan sejarah pembentukan yayasan sebagai lembaga advokasi Ordo Kapusin Provinsi Medan yang berfokus pada isu sosial, hak asasi manusia, dan kelestarian alam.
Bedah buku dipandu Prisca Niken dengan menghadirkan Romo Agustinus Heri Wibowo, Maria Ratnaningsih, dan Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Romo Simon Petrus Lili Tjahyadi sebagai penanggap.
Kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan jaringan Gusdurian, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), akademisi Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Pengurus Pusat Muhammadiyah, serta aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).
Dalam pemaparannya, Dr. Rosa Vivien Ratnawati, S.H., M.Si., yang hadir mewakili Menteri Lingkungan Hidup, menyampaikan apresiasi atas penerbitan buku tersebut. Ia mengajak masyarakat melakukan pertobatan ekologis dan berani mengevaluasi pola pembangunan yang telah merusak lingkungan.
Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud juga menekankan bahwa merawat lingkungan merupakan tanggung jawab moral dan kemanusiaan yang melampaui perbedaan agama maupun latar belakang.
Sementara itu, Ketua Umum IKKSU Jabodetabek, Lodewiyck Sihite, mengatakan peluncuran buku tersebut bukan sekadar kegiatan literasi, melainkan langkah awal membangun gerakan bersama yang berkelanjutan.
Ia mengingatkan bahwa meningkatnya bencana ekologis, seperti banjir, longsor, kekeringan, dan krisis air, menuntut perubahan cara pandang manusia terhadap alam.
Buku Perjuangan Sang Musafir mengambil inspirasi dari spiritualitas ekologis Santo Fransiskus dari Assisi yang menekankan bahwa alam bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi, melainkan rumah bersama yang harus dijaga dan diwariskan.
Sebagai tindak lanjut, penyelenggara merencanakan aksi reforestasi di Dolok Parmanonan dan Sihaporas untuk mendukung pemulihan hutan, menjaga sumber air, serta melindungi ekosistem.
Penulis buku, Pastor Walden Sitanggang, OFMCap, mengatakan kekhasan buku tersebut terletak pada kisah perjuangan bersama masyarakat adat dalam merawat bumi. Semangat Santo Fransiskus dari Assisi, menurutnya, semakin mendesak diwujudkan di tengah dunia yang menghadapi berbagai kerusakan lingkungan agar harapan akan kehidupan yang lebih baik tetap terjaga.
