Pertemuan Trump-Xi Jinping di Beijing Hasilkan Komitmen China Beli 200 Boeing dan Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka
GEOSIAR.CO.ID 16 Mei 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id
BEIJING, GEOSIAR.CO.ID — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menyelesaikan putaran terakhir pembicaraan kenegaraan di Beijing pada Jumat (15/5/2026), menutup kunjungan selama dua hari.
Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan ekonomi, termasuk komitmen China membeli 200 pesawat Boeing serta kesepahaman bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk arus energi. Isu Taiwan menjadi titik panas dalam pertemuan tersebut, dengan Xi memperingatkan potensi konflik antara kedua negara.
Trump menyebut pertemuan tersebut sangat sukses, sementara Xi menyebutnya bersejarah dan menjadi tonggak penting, demikian laporan media pemerintah China.
Topik yang dibahas dalam dua hari pertemuan meliputi perdagangan, minyak, perang Iran, dan Taiwan. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyatakan Xi berkomitmen menahan pengiriman peralatan militer ke Iran.
“He said he’s not going to give military equipment (Dia mengatakan tidak akan mengirim peralatan militer)… he said that strongly,” kata Donald Trump dalam wawancara dengan program Hannity di Fox News, sebagaimana dilaporkan BBC, Kamis (14/5/2026).
Trump juga menyebut Xi ingin Selat Hormuz tetap terbuka. China bahkan disebut telah sepakat membeli minyak dari AS.
Trump menambahkan, China sepakat membeli 200 pesawat Boeing tipe 737. Komitmen tersebut disampaikan Trump dalam wawancara Fox News yang sama. Boeing sebelumnya tengah menegosiasikan penjualan 500 pesawat 737 Max ke China, dan CEO Boeing Kelly Ortberg turut hadir di Beijing bersama delegasi Trump, sebagaimana dilaporkan The Hill.
Sebelumnya, pada Kamis (14/5/2026), Gedung Putih merilis ringkasan pertemuan yang menyebut kedua negara sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Kedua pihak juga sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung kelancaran arus energi.
“The two sides agreed that the Strait of Hormuz must remain open to support the free flow of energy (Kedua pihak sepakat Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung kelancaran arus energi),” demikian pernyataan resmi Gedung Putih, sebagaimana dilaporkan TIME, Kamis (14/5/2026).
Pernyataan Gedung Putih juga menyebutkan Xi menyatakan minat membeli lebih banyak minyak AS guna mengurangi ketergantungan China pada Selat Hormuz.
Pemerintah China menegaskan oposisinya terhadap militerisasi Selat Hormuz serta upaya pengenaan tol untuk penggunaannya.
Dalam jumpa pers Jumat (15/5/2026), Trump menegaskan kembali sikap kedua negara mengenai Iran.
“Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir,” kata Donald Trump dalam jumpa pers bersama Xi Jinping di Zhongnanhai, Beijing, Jumat (15/5/2026), seraya menekankan, “Kami ingin Selat Hormuz tetap terbuka.”
Meski demikian, ringkasan resmi dari pihak China tidak menyinggung isu Iran secara langsung. Kementerian Luar Negeri China juga menghindari pertanyaan apakah Iran turut dibahas, sebagaimana dilaporkan ABC News.
Isu Taiwan menjadi titik panas dalam pertemuan tersebut. Tak lama setelah pembicaraan dimulai, media pemerintah China merilis pernyataan Xi yang memperingatkan potensi konflik dengan AS terkait pulau tersebut.
“Jika ditangani dengan baik, hubungan bilateral dapat tetap stabil secara umum. Jika tidak ditangani dengan tepat, kedua negara bisa berbenturan atau bahkan jatuh ke dalam konflik, yang akan mendorong seluruh hubungan China-AS ke situasi yang sangat berbahaya,” kata Xi Jinping dalam pertemuan dengan Trump di Beijing, Kamis (14/5/2026), sebagaimana dikutip media pemerintah China.
Xi menyebut Taiwan sebagai masalah paling penting dalam hubungan China-AS. Ia juga menyatakan kemerdekaan Taiwan secara fundamental tidak sejalan dengan perdamaian di Selat Taiwan.
China mengklaim Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk mengambil alih pulau tersebut. AS menganut kebijakan Satu China, namun tetap mempertahankan hubungan tidak resmi yang kuat dengan Taipei serta memiliki kewajiban hukum menyediakan sarana bagi Taiwan untuk membela diri.
Tahun lalu, pemerintahan Trump mengumumkan penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS kepada Taiwan, yang dikecam Beijing.
Trump turut membawa sejumlah petinggi perusahaan teknologi AS ke Beijing, termasuk Elon Musk dari Tesla dan Jensen Huang dari Nvidia. CEO Apple Tim Cook dan CEO BlackRock Larry Fink juga termasuk dalam delegasi tersebut, sebagaimana dilaporkan CNBC.
Mantan direktur senior untuk Urusan China dan Taiwan di Dewan Keamanan Nasional AS Julian Gewirtz mengkhawatirkan posisi Trump terhadap Taiwan.
“Yang menjadi kekhawatiran adalah Trump bisa saja mengalah, dalam bentuk tertentu, ketika Xi Jinping menekannya seperti yang selalu ia lakukan terkait isu ini,” kata Julian Gewirtz kepada BBC, sebagaimana dimuat detikcom, Jumat (15/5/2026).
Kunjungan Trump ke Beijing semula dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026, namun ditunda akibat perang Iran. Trump terakhir kali mengunjungi China pada 2017.
www.geosiar.co.id

