Makalah AI Tanpa Riset Lolos Konferensi Internasional di Indonesia
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID – Penyelenggaraan konferensi ilmiah internasional di Indonesia menjadi sorotan setelah sebuah makalah yang seluruh isinya dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) tanpa riset asli dan memakai identitas fiktif dinyatakan lolos serta dipresentasikan dalam forum akademik.
Temuan tersebut terungkap dalam investigasi harian Kompas terhadap International Conference on Islamic Studies, Society, and Humanities (ICISSH) 2026 yang diselenggarakan secara hibrida oleh Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno (UINFas) Bengkulu pada 15-16 Juli 2026.
Dalam uji tersebut, tim Kompas sengaja mengirimkan makalah bodong yang disusun sepenuhnya menggunakan AI tanpa penelitian ilmiah maupun data asli. Makalah itu juga menggunakan identitas peserta palsu.
Hasilnya, panitia tetap menerima makalah tersebut dan menerbitkan Letter of Acceptance (LoA) yang ditandatangani Komite Pengarah ICISSH 2026, Arif Rahman Hakim.
Setelah konferensi selesai, panitia bahkan menerbitkan sertifikat resmi yang ditandatangani Direktur Program Pascasarjana UINFas, Prof. Zubaedi, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi peserta terhadap pengembangan penelitian dan pertukaran ilmiah.
Sorotan juga muncul karena batas pengiriman makalah ditetapkan pada 10 Juli 2026 atau hanya beberapa hari sebelum konferensi digelar. Jeda waktu yang sangat singkat itu dinilai tidak memadai untuk proses penelaahan (peer review) secara menyeluruh.
Menanggapi temuan tersebut, Arif Rahman Hakim mengakui proses kurasi belum berjalan optimal. Menurutnya, ICISSH 2026 merupakan konferensi internasional pertama yang diselenggarakan UINFas sehingga tim penelaah belum bekerja maksimal.
Ia juga menjelaskan jadwal yang padat dipilih agar menyesuaikan kehadiran pembicara utama dari Amerika Serikat dan Turki.
Meski demikian, Arif menegaskan makalah yang dipresentasikan belum otomatis diterbitkan dalam prosiding ilmiah. Seluruh naskah masih harus melalui proses penelaahan dan penyuntingan lanjutan sebelum dipublikasikan.
Investigasi Kompas juga menemukan dugaan lemahnya proses seleksi pada sejumlah konferensi internasional lainnya. Salah satunya International Conference on Interdisciplinary Approaches in Life Sciences and Healthcare (ICIALH) di Jakarta, di mana abstrak bodong yang dikirim setelah acara berakhir tetap mendapat ucapan terima kasih sebagai peserta.
Kasus serupa juga ditemukan pada International Conference on Curriculum Development and Pedagogy in Physical Education di Bali. Dalam konferensi tersebut, pengirim abstrak fiktif secara otomatis tercatat sebagai peserta virtual tanpa melalui proses registrasi resmi.
Temuan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai menurunnya standar integritas akademik serta maraknya praktik konferensi ilmiah yang mengabaikan proses seleksi dan penelaahan karya ilmiah secara ketat.
