Bahan Baku Naik 100 Persen, Harga Popok di RI Terancam Naik 30 Persen
GEOSIAR.CO.ID 27 April 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id
JAKARTA , GEOSIAR.CO.ID –Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) memperingatkan harga popok di Indonesia terancam naik 20 hingga 30 persen. Lonjakan harga dipicu kenaikan biaya bahan baku petrokimia hingga 100 persen akibat perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
APKI juga mengingatkan industri popok nasional menghadapi risiko penghentian produksi hingga pemutusan hubungan kerja massal jika pasokan tidak segera stabil.
Krisis bahan baku popok dipicu eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik tersebut melambungkan harga minyak mentah dunia secara signifikan.
Komponen petrokimia turunan minyak menjadi mahal akibat kenaikan tersebut. Bahan utama produksi popok seperti nafta dan polypropylene mengalami lonjakan harga drastis.
Direktur Komite Diapers APKI Oto Gunasis menyebut perubahan harga bahan baku terjadi sangat cepat. Sebagian pemasok juga menghadapi kendala ketersediaan bahan baku di pasar.
“Perubahan harga bahan baku yang sangat cepat membuat perhitungan biaya produksi menjadi tidak stabil. Industri perlu melakukan penyesuaian secara realistis dan terukur agar tidak mengalami tekanan yang lebih dalam,” kata Oto dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Lonjakan biaya produksi mendorong produsen menaikkan harga jual popok. Kenaikan harga di pasar tercatat berkisar 20 hingga 30 persen.
APKI menilai kenaikan harga di pasar tersebut belum cukup menyelamatkan industri jika pasokan bahan baku tidak segera pulih. Asosiasi menegaskan situasi ini bukan lagi fluktuasi normal melainkan krisis yang memerlukan respons cepat.
“Kenaikan harga bahan baku secara menyeluruh telah memberi tekanan pada seluruh rantai nilai industri, mulai dari produsen bahan baku hingga produsen produk akhir. Dalam kondisi ini, tekanan biaya berpotensi mendorong penyesuaian harga jual diapers di pasar, yang pada akhirnya dapat berdampak pada daya beli masyarakat,” ujar Oto pada keterangan yang sama.
Oto mewanti-wanti jika dalam satu hingga dua bulan ke depan tidak ada kepastian pasokan, ketersediaan popok di pasar akan terganggu serius. Industri popok nasional juga akan menghadapi ancaman penghentian produksi.
Risiko gelombang pemutusan hubungan kerja menjadi konsekuensi paling nyata. APKI mendesak pemerintah segera memberikan respons cepat terkait kemudahan perizinan dan kelancaran arus impor bahan baku.
Koordinasi antarkementerian dinilai krusial agar tidak muncul kebijakan baru yang menciptakan ketidakpastian. Tanpa solusi nyata dalam jangka pendek, risiko penutupan pabrik menjadi semakin nyata.
Kenaikan harga nafta sebagai bahan baku utama tercatat signifikan sejak konflik dimulai. Harga nafta menyentuh 917 dolar AS per ton pada 1 April 2026, naik dari sekitar 630 dolar AS per ton pada Februari, sebagaimana dilaporkan Kompas.
Sekitar 70 persen pasokan nafta dunia berasal dari kawasan Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 turut mengganggu jalur pasokan global.
Dampak kenaikan harga bahan baku tidak hanya menyerang industri popok. Sektor kondom, plastik kemasan, hingga makanan dan minuman sebelumnya juga melaporkan kenaikan biaya produksi imbas konflik di Timur Tengah.
www.geosiar.co.id

