Peringatan itu disampaikan SBY saat menjadi pembicara dalam acara Supermentor-28 On Leadership yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2026).
“Sebab kalau perang masih begini di Timur Tengah, semua negara kena. Ekonomi akan berantakan di seluruh dunia,” ujar SBY, sebagaimana dilaporkan Detik.com.
SBY menekankan pentingnya kompromi dalam setiap proses negosiasi perdamaian.
“Tidak ada resep yang ajaib untuk sebuah deal kesepakatan, perlu ada take and give, compromise. Kesediaan untuk mundur satu langkah ke belakang masing-masing pihak yang sedang berunding,” katanya.
Mantan Presiden yang pernah bertugas sebagai peacekeeper di Bosnia itu menyebut pengalaman panjangnya dalam resolusi konflik sebagai bekal untuk memahami sulitnya proses perdamaian.
“Saya kenyang dalam resolusi konflik, saya kenyang dalam bisnis negosiasi. Memang diperlukan ketangguhan, kesabaran dalam sebuah peace process,” ujarnya.
Turut hadir dalam acara tersebut Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari Partai Demokrat, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, serta sejumlah menteri dan gubernur.