Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengungkapkan temuan tersebut berdasarkan pemantauan langsung di lapangan, dengan kenaikan dipicu gangguan rantai pasok global akibat konflik geopolitik yang mendorong harga minyak mentah sebagai bahan baku utama plastik.
“Kenaikan harga plastik ini memang secara porsi tidak terlalu besar dalam struktur biaya UMKM. Namun tetap berpotensi memicu kenaikan harga jual di tingkat pedagang,” ujar Gunawan, Rabu (15/4/2026), sebagaimana dilaporkan Waspada.id.
Gunawan menyoroti risiko yang lebih besar dari dampak langsungnya, yaitu pembulatan harga jual di tingkat konsumen. Kenaikan beban biaya per produk hanya sekitar Rp95 hingga Rp100, tetapi pedagang akan membulatkannya menjadi Rp500 bahkan Rp1.000 karena keterbatasan uang receh.
“Potensi kenaikan harga ini berpeluang menciptakan laju tekanan inflasi yang berlebih dan pada dasarnya tidak perlu terjadi,” kata Gunawan.
Sejumlah UMKM di sektor makanan dan minuman masih menahan diri untuk menaikkan harga jual meski biaya produksi meningkat, sebagaimana dilaporkan IDN Times Sumut. Sebagian memilih efisiensi dengan mengurangi kualitas produk atau jumlah tenaga kerja.
Sektor yang paling terdampak adalah produsen minyak goreng dan air minum dalam kemasan karena sangat bergantung pada plastik sebagai bahan baku kemasan utama.