Pesan Prabowo di KTT BRICS 2026: Indonesia Tak Mau Didikte
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Presiden Prabowo Subianto membawa tiga pesan utama Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di New Delhi, India. Pesan itu mencakup kemandirian nasional, persatuan negara-negara Global South, serta penguatan kerja sama BRICS dan tata kelola global.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengatakan pesan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri sesi terbatas bertajuk Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism.
Pesan pertama berkaitan dengan pentingnya kemandirian dan ketahanan nasional. Prabowo menilai kekuatan sebuah negara harus dibangun dari kemampuan memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya.
“Kekuatan sebuah negara bermula dari kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya: pangan, energi, dan pendidikan. Dengan fondasi yang kuat, Indonesia tidak akan bergantung atau mudah didikte oleh kekuatan tertentu,” ujar Teddy dalam keterangan tertulis, Senin (14/9/2026).
Prabowo Dorong Persatuan Global South
Prabowo juga menekankan pentingnya persatuan negara-negara Global South dalam menghadapi perubahan ekonomi dan geopolitik dunia.
Menurutnya, negara-negara berkembang harus memiliki posisi yang setara dalam memperjuangkan kepentingan dan masa depannya sendiri.
“Mengutip pepatah ‘Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh’, Presiden mengingatkan kembali pentingnya spirit Konferensi Asia-Afrika. Negara-negara Global South kini berdiri setara untuk memperjuangkan kepentingan dan masa depannya sendiri,” kata Teddy.
Pesan ketiga berkaitan dengan kekuatan BRICS yang merepresentasikan sekitar separuh populasi dunia. Prabowo mendorong agar besarnya potensi tersebut diwujudkan dalam kerja sama yang konkret.
“BRICS mewakili separuh populasi dunia. Kekuatan ini harus diubah menjadi kerja sama yang nyata: memperkuat ketahanan pangan dan energi, menghubungkan pasar, modal, teknologi, sumber daya, dan pengetahuan, serta membuka peluang pembangunan yang lebih besar bagi negara-negara berkembang,” tutur Teddy.
Prabowo juga mendorong penguatan tata kelola global agar lebih adil dan inklusif. Indonesia menilai PBB tetap harus menjadi pusat sistem multilateral, namun perlu diperkuat agar lebih mampu merespons perubahan dunia.
“PBB harus tetap menjadi pusat sistem multilateral, namun perlu diperkuat agar lebih representatif, responsif, dan mampu menghadirkan hasil konkret bagi masyarakat dunia,” ujar Teddy.
Menurutnya, keanggotaan Indonesia di BRICS menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam mendorong tatanan dunia yang lebih adil, setara, dan damai.
“Melalui keanggotaan di BRICS, Indonesia terus bergerak aktif mewujudkan tatanan dunia yang lebih adil, setara, dan damai bagi seluruh bangsa,” lanjutnya.
