Menteri Keuangan Purbaya Tolak Tawaran Utang dari IMF: Kas Kita Masih Rp420 Triliun
GEOSIAR.CO.ID 20 April 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id
WASHINGTON, GEOSIAR.CO.ID –Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak tawaran pendanaan utang dari Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) di tengah guncangan ekonomi global. Penolakan disampaikan Purbaya dalam pertemuan dengan Managing Director IMF Kristalina Georgieva di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (14/4/2026).
Purbaya menegaskan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia masih kuat dengan Saldo Anggaran Lebih (SAL) mencapai Rp 420 triliun sebagai bantalan fiskal.
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari rangkaian agenda Purbaya pada IMF and World Bank Group Spring Meeting 2026 di Washington DC. Pada kesempatan yang sama, Purbaya juga bertemu dengan 18 investor raksasa Amerika Serikat, termasuk Goldman Sachs Asset Management dan Fidelity. Ia turut melakukan pertemuan dengan Bank Dunia dan lembaga pemeringkat S&P.
Dalam dialog dengan Kristalina, Purbaya menyampaikan pertanyaan tentang kebijakan IMF untuk membantu negara mengurangi dampak ketidakpastian global. IMF, melalui Kristalina, menjelaskan tidak memiliki kewenangan khusus untuk hal tersebut. Lembaga itu hanya menyediakan dana bantuan bagi negara-negara yang membutuhkan.
“Saya tanya ke mereka apakah ada kebijakan khusus dari IMF untuk membantu mengurangi ketidakpastian. Dia bilang IMF tidak punya otoritas melakukan hal itu, tetapi mereka menyediakan dana bantuan untuk negara-negara yang membutuhkan. Tentu saja Indonesia tidak membutuhkan karena anggaran kita cukup baik dan kita masih punya bantalan yang cukup besar yaitu Rp 420 triliun,” ujar Purbaya dalam keterangan resminya, Rabu (15/4/2026).
Purbaya mengungkapkan IMF sempat mempertanyakan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global saat ini. Menjawab pertanyaan tersebut, ia menyebut ketahanan itu merupakan hasil perubahan kebijakan yang dilakukan pemerintah sejak tahun lalu. Reformasi kebijakan dinilai membuat ekonomi Indonesia lebih siap menghadapi guncangan eksternal.
“Kenapa kita bisa bertahan di tengah keadaan global yang seperti ini. Tapi saya jelaskan bahwa memang kita sudah merubah kebijakan sejak tahun lalu, dan tampaknya sudah jelas. Jadi kita sedang mengalami percepatan ketika shock dari ketidakpastian global, dari harga minyak yang tinggi,” ujarnya.
SAL Rp 420 triliun tersebut tersimpan di Bank Indonesia dan dapat digunakan sewaktu-waktu sebagai bantalan fiskal. Purbaya juga menyebut konsumsi rumah tangga tetap terjaga sebagai indikator daya beli masyarakat yang stabil. Kebijakan anggaran yang diterapkan sejak tahun lalu dinilai berdampak positif saat dunia menghadapi tekanan kenaikan harga minyak akibat konflik global.
Kristalina Georgieva sebelumnya memperingatkan gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah dapat memicu permintaan bantuan keuangan baru dalam jumlah besar. IMF memperkirakan setidaknya selusin negara akan mencari program pinjaman baru untuk mengatasi lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasokan. Beberapa negara Afrika sub-Sahara disebut telah mulai meminta bantuan.
“Gangguan akibat perang dapat memicu permintaan dukungan keuangan baru dalam jumlah besar, baik dalam bentuk pinjaman baru maupun tambahan dari program yang sudah berjalan,” ujar Kristalina dalam konferensi pers di sela Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia di Washington, Kamis (16/4/2026), sebagaimana dilaporkan Reuters. Ia memperkirakan nilai permintaan pinjaman baru tersebut mencapai US$ 20 miliar hingga US$ 50 miliar.
IMF saat ini mengelola 39 program pembiayaan negara aktif. Kristalina tidak merinci negara-negara yang telah meminta bantuan. Lembaga itu juga belum membahas penambahan program pinjaman Mesir senilai US$ 8 miliar meskipun perang berdampak pada perekonomian negara tersebut.
www.geosiar.co.id

