BGN Temukan Kandungan Zat Kimia Berlebih pada Tumis Pakcoy Menu MBG di Cianjur
GEOSIAR.CO.ID 13 Mei 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id
CIANJUR , GEOSIAR.CO.ID —Badan Gizi Nasional (BGN) merilis hasil investigasi keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Tim investigasi menemukan kandungan nitrit sebesar 11,85 mg/kg pada tumis pakcoy, atau 169 kali lipat di atas batas aman standar The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA). Temuan berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leles 2, Sukasirna.
Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, menyampaikan hasil investigasi melalui akun Instagram resmi Sidak BGN pada Senin (11/5/2026). Batas maksimum JECFA untuk nitrit adalah 0,07 mg/kg berat badan per hari.
“Jika merujuk batas maksimum JECFA untuk nitrit sebesar 0,07 mg/kg berat badan per hari, tumis pakcoy tersebut mengandung 11,85 mg/kg. Artinya, temuan di SPPG Leles 2 Cianjur mencapai 169 kali lipat di atas batas aman,” kata Arie Karimah Muhammad melalui akun Instagram resmi Sidak BGN, Senin (11/5/2026).
Meski cemaran kimia ditemukan, hasil uji Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat menyatakan menu pada 13, 14, 15, 17, dan 18 April 2026 negatif dari kontaminasi bakteri berbahaya.
“Menu tersebut terbukti negatif Salmonella sp, S. aureus, E. coli, dan B. cereus. Namun, temuan nitrit ini sangat serius dan berpotensi berdampak luas pada keamanan pangan,” jelas Arie pada keterangan yang sama.
Tingginya kadar nitrit diduga berasal dari penggunaan pupuk nitrogen berlebih atau pencemaran air di area pertanian, bukan dari proses pengolahan di dapur SPPG. Nitrit dapat memicu kondisi methaemoglobinemia, yakni penurunan kemampuan hemoglobin membawa oksigen ke seluruh tubuh.
“Akibatnya, tubuh bisa terasa lemas dan muncul sesak napas karena sel-sel tubuh kekurangan oksigen,” ujar Arie.
BGN akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mengevaluasi sistem pengawasan rantai pasok bahan pangan dalam program MBG.
Kasus keracunan di Cianjur sebelumnya menelan korban balita berinisial MAB (2) yang meninggal dunia pada Kamis (23/4/2026) setelah dilaporkan mengkonsumsi menu MBG. Berdasarkan investigasi BGN, makanan terakhir yang dikonsumsi korban adalah menu tanggal 14 April 2026 yang dinyatakan negatif dari cemaran bakteri maupun nitrit.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur Made Setiawan sebelumnya menyatakan belum dapat menyimpulkan pemicu utama keracunan ratusan warga di Kecamatan Leles.
“Kami masih menunggu hasil uji laboratorium guna memastikan apakah pemicu keracunan dari makanan atau faktor lain. Kami segera umumkan setelah hasilnya keluar sekitar satu pekan kedepan,” kata Made Setiawan kepada wartawan, Sabtu (25/4/2026).
www.geosiar.co.id

