Meta Masuki Era Zombie, Bandingkan dengan Kebangkrutan Yahoo dan AOL
GEOSIAR.CO.ID 13 Mei 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID —Jurnalis investigasi The New York Times (NYT) Julia Angwin menyebut induk perusahaan Facebook, Meta, telah memasuki era zombie.
Penilaian tersebut didasarkan pada tekanan pendapatan akibat ketidakpuasan konsumen yang meningkat, pengeluaran perusahaan yang boros selama bertahun-tahun, serta penurunan jumlah pengguna untuk pertama kalinya sejak Meta mencatatkan angka tersebut.
Pandangan Angwin dituangkan dalam opini di NYT yang kemudian dikutip oleh Futurism pada Selasa (12/5/2026).
Facebook pertama kali diluncurkan oleh pendirinya Mark Zuckerberg pada 2004 untuk mahasiswa Universitas Harvard. Platform tersebut diperluas ke kampus lain secara bertahap dan dirilis untuk publik pada 2006. Facebook menjalankan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada 2012 dan mengakuisisi Instagram serta WhatsApp.
Angwin menilai tren positif tersebut tidak bertahan. Laporan keuangan terbaru yang dirilis Meta pada 29 April 2026 menunjukkan penurunan jumlah pengguna untuk pertama kalinya sejak perusahaan melaporkan angka tersebut.
“Pendapatan Meta mulai menunjukkan tekanan karena meningkatnya ketidakpuasan konsumen dan pengeluaran perusahaan yang boros selama bertahun-tahun,” kata Julia Angwin sebagaimana dikutip CNBC Indonesia dari Futurism, Selasa (12/5/2026).
Angwin menyamakan kondisi Meta dengan kematian Yahoo dan AOL, dua nama besar internet di masa lalu. Kedua platform tersebut secara teknis masih ada, namun tidak lagi menjadi pilihan utama generasi muda. Untuk AOL, kemunduran ditandai pada 2003 saat pengguna meninggalkan layanan internet dial-up untuk broadband yang lebih cepat. Yahoo mengalami nasib serupa pada 2015 saat menjual diri ke Verizon.
“Seperti kata anak muda, mereka sangat memalukan. Banyak remaja tidak mau memiliki akun AOL, alamat email Yahoo, atau profil Facebook,” tulis Angwin.
“Dan harga saham yang anjlok mengonfirmasi apa yang selama ini kita yakini dalam hati: Ini adalah perusahaan yang sedang memasuki era zombie,” lanjut Angwin.
Meta tetap menjadi salah satu anggota paling bernilai di indeks S&P 500 dengan tiga miliar pengguna di seluruh produknya. Namun perusahaan dinilai berada di awal penurunan panjang setelah serangkaian akuisisi defensif dan kegagalan ekspansi.
Setelah upaya pengembangan Metaverse yang dinilai tidak berhasil, Meta kini mengarahkan fokus pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Zuckerberg disebut menawarkan paket gaji ratusan juta dolar untuk merekrut talenta terbaik bidang AI ke tim superintelijen perusahaan.
Komitmen anggaran Meta untuk AI juga sangat besar. Meta menyiapkan dana US$600 miliar (sekitar Rp10.000 triliun) untuk membangun pusat data (data center) pada 2028.
Selain itu, perusahaan mengeluarkan US$2 miliar (sekitar Rp33,9 triliun) untuk mengakuisisi perusahaan rintisan (startup) AI asal Tiongkok bernama Manus.
Menurut laporan Boing Boing, jumlah pengguna aktif harian di seluruh properti Meta turun dari 3,58 miliar menjadi 3,56 miliar pada kuartal terakhir.
Penurunan tersebut menjadi yang pertama dalam sejarah pelaporan kinerja Meta. Sebelumnya, Zuckerberg juga disebut menghabiskan US$80 miliar untuk pengembangan Metaverse pada periode 2021-2026, yang akhirnya ditinggalkan.
www.geosiar.co.id

