Kapolri: Pejabat hingga Eks Pimpinan Polri Masih WhatsApp Titip Anak Masuk Akpol
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID – Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengaku masih kerap menerima pesan WhatsApp dari para pejabat, termasuk mantan pimpinan Polri sendiri, yang meminta agar anak atau kerabat mereka diloloskan dalam seleksi Akademi Kepolisian (Akpol).
Meski demikian, Jenderal Sigit menegaskan seluruh permintaan tersebut ditolak sebagai bagian dari komitmen reformasi rekrutmen Polri. Pernyataan itu disampaikan Jenderal Sigit dalam Rapat Koordinasi Pengawasan (Rakorwas) Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Tahun Anggaran 2026 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Rabu (10/6/2026).
“Ya saya mohon maaf kepada rekan-rekan di sini, mohon maaf barangkali ada yang putra-putrinya masuk Akpol, kami tidak bisa berbuat banyak untuk membantu karena memang sudah menjadi komitmen kami saat ini untuk tidak ada lagi kuota khusus dari Kapolri,” kata Listyo Sigit Prabowo, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, dalam Rakorwas Kompolnas di Ancol, Jakarta Utara, Rabu (10/6/2026), sebagaimana dilaporkan Kompas.com.
Sigit berterus terang bahwa pesan-pesan titipan itu terus masuk bahkan setelah Polri secara resmi mengumumkan penghapusan kuota khusus. Jenderal Sigit bahkan mengaku kerap menegur Asisten Sumber Daya Manusia Kapolri Irjen Anwar karena situasi tersebut.
“Pak Anwar ini selalu saya marahi, ‘kok selalu masih ada yang WA saya minta supaya anaknya bisa diloloskan di tahap berikutnya sementara Pak Anwar sudah mengumumkan’,” ujar Sigit, sebagaimana dilaporkan iNews.id.
Sigit juga menyebut permintaan titipan bukan hanya datang dari kalangan pejabat aktif, tetapi juga dari mantan pimpinan institusi Polri.
“Jadi mohon maaf terhadap semuanya karena saya lihat banyak sekali putra ataupun titipan dari pejabat-pejabat termasuk mantan-mantan pimpinan Polri, kali ini kami tidak bisa membantu,” katanya, sebagaimana dilaporkan Kumparan.
Sigit menyatakan memilih tetap konsisten menolak meski harus menanggung risiko dianggap tidak kooperatif.
“Risikonya ya kita lebih baik dimarahi. Tapi mudah-mudahan ini yang kita lakukan bukan karena kita tidak ingin bantu, tapi ini bagian dari upaya kita untuk ingin menunjukkan bahwa institusi Polri saat ini sedang berbenah untuk menjadi lebih baik,” ujar Sigit, sebagaimana dilaporkan Kumparan.
Polri menegaskan seleksi Akpol Tahun Anggaran 2026 hanya membuka satu jalur, yaitu jalur reguler nasional, dengan prinsip yang disebut BETAH: bersih, transparan, akuntabel, dan humanis.
Asisten Sumber Daya Manusia Kapolri Irjen Anwar menegaskan tidak ada kuota khusus, kuota Mabes, jalur prestasi, jalur titipan, maupun perlakuan istimewa dalam bentuk apapun, sebagaimana dilaporkan Antara News.
Polemik rekrutmen Akpol sebelumnya mencuat setelah Penasihat Khusus Presiden Bidang Keamanan dan Ketertiban Masyarakat serta Reformasi Kepolisian Jenderal (Purnawirawan) Ahmad Dofiri mengakui adanya kuota khusus berbayar dalam rekrutmen Polri. Dofiri menyatakan kuota tersebut resmi dihapus.
Anggota Komisi Percepatan Reformasi Polri Mahfud MD sebelumnya juga menegaskan rekrutmen Akpol tidak boleh ada titipan dari siapa pun.
“Polri sudah mengumumkan mulai tahun ini tidak ada titipan. Kalau ada orang mengaku punya pengaruh agar itu diterima, itu semua bohong supaya diabaikan,” kata Mahfud MD, Anggota Komisi Percepatan Reformasi Polri, di Senayan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
