Emas dan Perak Jadi Primadona Baru Investor Asia Tenggara pada 2026
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
SINGAPURA, GEOSIAR.CO.ID -Minat investor dan trader di Asia Tenggara terhadap emas dan perak meningkat sepanjang 2026. Ketidakpastian ekonomi global, gejolak geopolitik, serta fluktuasi pasar keuangan mendorong banyak pelaku pasar mengalihkan sebagian portofolionya ke logam mulia yang dinilai lebih aman.
Laporan berbagai lembaga keuangan menunjukkan permintaan emas fisik maupun instrumen investasi berbasis logam mulia meningkat di sejumlah negara Asia Tenggara.
Tren tersebut terjadi ketika investor mencari aset pelindung nilai (hedging) di tengah risiko perlambatan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan moneter global.
“Investor semakin mencari instrumen yang mampu menjaga nilai kekayaan mereka dalam jangka panjang. Emas masih menjadi pilihan utama saat volatilitas pasar meningkat,” demikian disampaikan dalam laporan industri yang dikutip Tribunnews, Selasa, 24 Juni 2026.
Kenaikan harga emas dunia menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya minat investor. Sepanjang tahun ini, harga emas beberapa kali mencetak rekor tertinggi baru seiring meningkatnya permintaan global.
Perak juga mulai menarik perhatian karena dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang didukung kebutuhan industri, termasuk sektor energi terbarukan dan teknologi.
“Perak menawarkan kombinasi antara fungsi aset lindung nilai dan kebutuhan industri yang terus berkembang,” tulis laporan tersebut.
Pelaku pasar di Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura disebut semakin aktif memanfaatkan platform perdagangan digital untuk berinvestasi pada emas dan perak. Kemudahan akses melalui aplikasi investasi turut memperluas jumlah investor ritel yang masuk ke pasar logam mulia.
Kondisi suku bunga global yang mulai bergerak lebih stabil juga membuat sebagian investor melakukan diversifikasi aset. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada instrumen berisiko tinggi seperti saham teknologi dan aset kripto yang cenderung mengalami fluktuasi tajam.
Analis pasar menilai tren investasi logam mulia masih berpotensi berlanjut selama ketidakpastian global belum mereda. Faktor geopolitik, arah kebijakan bank sentral utama dunia, serta perkembangan inflasi akan menjadi penentu utama pergerakan harga emas dan perak dalam beberapa bulan mendatang.
“Ketika ketidakpastian meningkat, emas biasanya kembali menjadi tujuan utama investor untuk menjaga nilai aset mereka,” ujar seorang analis pasar sebagaimana dilaporkan Tribunnews.
Meski demikian, investor tetap diingatkan mempertimbangkan profil risiko dan tujuan investasi sebelum menempatkan dana pada instrumen tertentu. Diversifikasi portofolio dinilai tetap menjadi strategi penting untuk menghadapi dinamika pasar keuangan global.
