Putin Tambah Jumlah Pengawal di Tengah Ancaman Pembunuhan dan Kudeta
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
MOSKWA, GEOSIAR.CO.ID – Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menambah jumlah personel yang bertugas mengamankan dirinya di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap ancaman pembunuhan dan upaya kudeta. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada Rabu (1/7/2026) melalui rancangan dekret terbaru pemerintah Rusia.
Berdasarkan aturan tersebut, jumlah petugas di kantor pusat Federal Protective Service (FSO) yang bertanggung jawab langsung atas keamanan Putin bertambah dari 785 orang menjadi 812 personel. Ini merupakan kali keempat Putin menambah jumlah pengawal sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina.
FSO merupakan lembaga yang bertugas melindungi pejabat tertinggi negara Rusia, termasuk presiden, keluarga presiden, perdana menteri, serta sejumlah pejabat senior lainnya.
Selain mengawal aktivitas presiden di dalam maupun luar kediaman resmi, lembaga ini juga mengelola komunikasi negara, memantau opini publik terhadap presiden, serta memiliki kewenangan menjalankan langkah-langkah yang berkaitan dengan keamanan informasi.
Secara keseluruhan, FSO diperkirakan memiliki lebih dari 50.000 personel. Namun, penambahan terbaru hanya berlaku bagi kantor pusat FSO yang bertanggung jawab langsung atas pengamanan Presiden Putin.
Sebelum invasi Rusia ke Ukraina, jumlah personel di kantor pusat FSO tidak mengalami penambahan selama hampir 13 tahun. Pada 2010, jumlah petugas di unit tersebut bahkan masih sekitar 100 orang lebih sedikit dibandingkan saat ini.
Menurut penilaian intelijen Eropa, sejak awal tahun FSO telah memperketat protokol keamanan seiring meningkatnya ancaman serangan drone jarak jauh serta kekhawatiran terhadap kemungkinan upaya pembunuhan maupun kudeta terhadap Putin.
Sejumlah aturan baru diterapkan bagi staf yang bekerja di sekitar presiden. Mereka dilaporkan dilarang menggunakan telepon seluler, perangkat yang terhubung ke internet, maupun transportasi umum. Selain itu, rumah para staf juga dipasangi sistem keamanan tambahan.
Bahkan, berdasarkan keterangan sumber yang dikutip media independen Rusia, para pejabat diminta melepas jam tangan saat berada di dekat Putin sejak pertengahan April 2026 sebagai bagian dari prosedur keamanan.
Meski memiliki sistem pengamanan berlapis, FSO pernah mengalami kebocoran informasi. Pada 2024, jurnalis Prancis dari Le Monde berhasil melacak pergerakan Putin melalui data aplikasi kebugaran Strava yang digunakan sejumlah anggota FSO dengan akun publik.
Data tersebut menghubungkan Putin dengan sejumlah properti mewah yang sebelumnya dibantah sebagai miliknya, termasuk sebuah istana di tepi Laut Hitam dan sebuah dacha mewah di Karelia.
Data yang sama juga mengungkap pergerakan tim pengamanan menjelang sejumlah agenda penting, termasuk pertemuan rahasia Putin dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un serta berbagai pertemuan diplomatik lainnya.
