Ekspor Kopi Robusta Sumatra Turun 22 Persen
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID – Ekspor biji kopi robusta dari Pulau Sumatra pada Mei 2026 tercatat menurun 22,18 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini mencerminkan masih terbatasnya pasokan kopi nasional di tengah proses panen yang belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan data Dinas Perdagangan Provinsi Lampung, volume ekspor kopi robusta Sumatra pada Mei 2026 mencapai 18.072,4 metrik ton. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Mei 2025 yang mencapai 23.224,7 metrik ton.
Meski secara tahunan mengalami penurunan, kinerja ekspor pada Mei menunjukkan perbaikan dibandingkan April 2026. Pada April, ekspor robusta hanya mencapai 7.862,8 metrik ton, sehingga terjadi kenaikan sekitar 129,8 persen secara bulanan.
Peningkatan tersebut sejalan dengan mulai berlangsungnya musim panen utama di sejumlah sentra produksi kopi. Lampung sebagai penghasil robusta terbesar di Indonesia sekaligus pintu utama ekspor kopi Sumatra dinilai menjadi indikator penting kondisi pasokan kopi nasional.
Di sisi harga, premium kopi robusta Lampung untuk skema Free on Board (FOB) turun menjadi 150 dolar AS per ton di atas kontrak berjangka Juli. Setahun sebelumnya, premium masih berada di level 300 dolar AS per ton.
Sementara itu, harga kontrak berjangka robusta di Bursa London masih bertahan di level tinggi, meski mulai mengalami koreksi dibandingkan rekor harga pada tahun sebelumnya.
Prospek industri kopi Indonesia juga masih dibayangi risiko cuaca. Sejumlah analis memperkirakan fenomena El Niño berpotensi muncul pada paruh kedua 2026.
Kondisi tersebut diperkirakan memicu cuaca lebih kering di Indonesia dan Vietnam, dua negara produsen robusta terbesar dunia, sehingga dapat memengaruhi produktivitas tanaman dan pasokan global.
Di tengah tantangan produksi, permintaan kopi robusta di pasar internasional masih relatif kuat. Tingginya harga kopi dunia dalam beberapa waktu terakhir turut menopang nilai ekspor Indonesia meski produksi nasional masih menghadapi kendala akibat faktor cuaca dan rendahnya produktivitas sebagian kebun rakyat.
Sementara itu, analis Coffee Network StoneX, Alexis Rubinstein, menilai awal musim ekspor tahun pemasaran 2026/2027 menunjukkan kondisi pasokan yang lebih ketat dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, penurunan ekspor pada awal musim mencerminkan dampak berlanjut dari turunnya produksi kopi robusta Indonesia.
StoneX memperkirakan produksi kopi Indonesia pada musim 2026/2027 mencapai sekitar 12,37 juta kantong atau menurun dibandingkan musim sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, produksi robusta diproyeksikan turun sekitar 9,05 persen menjadi sekitar 10 juta kantong, sedangkan produksi arabika hanya meningkat tipis menjadi sekitar 1,38 juta kantong.
Akibat menurunnya produksi, ekspor kopi biji hijau Indonesia selama periode April 2026 hingga Maret 2027 diperkirakan hanya mencapai sekitar 7 juta kantong atau turun sekitar 10,71 persen dibandingkan musim sebelumnya.
Menurut Rubinstein, Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan pasokan robusta dunia bersama Vietnam dan Brasil. Karena itu, penurunan produksi dan melambatnya ekspor dari Indonesia berpotensi memperketat pasokan global serta menopang harga kopi robusta di pasar internasional.
Pelaku pasar kini menantikan perkembangan panen selama beberapa bulan ke depan. Jika produksi terus meningkat, ekspor kopi robusta Indonesia berpeluang kembali membaik. Namun, risiko cuaca ekstrem masih menjadi faktor utama yang dapat memengaruhi produksi maupun pergerakan harga kopi di pasar global.
