BYD Khawatir Pajak Mobil Listrik Hambat Pertumbuhan Pasar
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
TANGERANG, GEOSIAR.CO.ID – PT BYD Motor Indonesia menilai wacana pemerintah mengenakan pajak terhadap mobil listrik berpotensi mengganggu pertumbuhan pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang selama ini berkembang berkat dukungan berbagai insentif fiskal dan nonfiskal.
Head of Marketing, PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengatakan hingga saat ini pembahasan mengenai pajak mobil listrik masih sebatas wacana. Karena itu, pihaknya masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah.
“Kami lihat trennya itu sudah menunjukkan hal yang positif dan ini juga kita harus ingat bersama bahwa elektrifikasi ini sangat didukung oleh adanya kebijakan nonfiskal dan fiskal,” ujar Luther di Tangerang.
Menurutnya, akan sangat disayangkan apabila kebijakan baru justru menghambat pertumbuhan pasar kendaraan listrik yang saat ini menunjukkan perkembangan positif.
“Sayang sekali kalau di dalam growth yang lagi bagus ini dilakukan suatu kebijakan yang menyebabkan tren positifnya jadi ditakutkan akan terganggu,” katanya.
Luther menjelaskan, sejak awal pemerintah memberikan berbagai insentif bagi kendaraan listrik untuk mempercepat transisi menuju elektrifikasi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang masih memperoleh subsidi.
“Kita juga harus mengingat kembali ya bahwa kebijakan insentif di kendaraan elektrifikasi itu poin utamanya adalah untuk pengurangan subsidi di bahan bakar,” ujarnya.
Karena itu, BYD berharap pemerintah mempertimbangkan secara matang setiap kebijakan fiskal yang akan diterapkan agar tidak menghambat pertumbuhan industri kendaraan listrik nasional.
Meski demikian, Luther menegaskan pihaknya tetap menghormati proses penyusunan kebijakan pemerintah dan meyakini setiap keputusan akan melalui berbagai kajian.
“Mungkin kami masih berharap bahwa kebijakan-kebijakan yang tidak terlalu menguntungkan dari sisi growth tren positif dari elektrifikasi ini tidak diberlakukan dalam waktu dekat. Tapi anyway kita follow bagaimana pemerintah untuk merancang,” katanya.
Ia menambahkan, kekhawatiran BYD bukan hanya terkait penjualan perusahaan, tetapi juga dampaknya terhadap perkembangan industri kendaraan listrik secara keseluruhan.
“Tentunya kita lebih khawatirnya bukan di sisi sales secara perspektif hanya BYD ya, tapi secara keseluruhan,” ucap Luther.
Menurutnya, pertumbuhan kendaraan listrik memberikan manfaat yang lebih luas, mulai dari pengurangan emisi karbon, peningkatan kualitas udara, hingga menekan beban subsidi energi.
Di sisi lain, BYD tetap optimistis terhadap prospek pasar kendaraan listrik di Indonesia. Perusahaan juga percaya diri menghadapi ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, termasuk melalui peluncuran model terbaru BYD M6 DM yang diharapkan dapat meningkatkan penjualan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun lalu saja kami sudah mencapai 4.200-an. Secara angka nanti kita lihat pergerakannya,” kata Luther.
