10 Dokter dan Nakes Penghina Pasien BPJS Terancam Sanksi Etik
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID – Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) mengungkapkan telah mengidentifikasi 10 dokter dan tenaga kesehatan (nakes) yang diduga menghina pasien BPJS Kesehatan melalui media sosial Threads. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena proses investigasi masih berlangsung.
Pimpinan KKI Muhammad Syahril mengatakan, seluruh unggahan di media sosial masih terus ditelusuri untuk memastikan ada tidaknya pelanggaran etik oleh tenaga kesehatan.
“Bisa jadi (bertambah). Ini kan nggak dihapus akunnya mereka kan,” kata Syahril di Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2026).
Ia menambahkan, nama-nama tenaga kesehatan tersebut berasal dari berbagai latar belakang.
“Kita bisa tahu semua di media sosial kan. PNS ada, swasta ada. Dokter gigi ada,” ujarnya.
Meski demikian, KKI belum bersedia mengungkap identitas para dokter maupun tenaga kesehatan yang sedang diperiksa, termasuk rumah sakit tempat mereka bertugas.
Menurut Syahril, kasus yang sedang ditangani lebih mengarah pada dugaan pelanggaran etik dalam penggunaan media sosial, bukan terkait pelayanan medis secara langsung kepada pasien.
Kasus ini mencuat setelah unggahan pasien BPJS Kesehatan bernama Yurizal Tri Chaerawan yang mengeluhkan harus menunggu ruang rawat inap selama sekitar delapan jam viral di Threads. Unggahan tersebut justru dibalas sejumlah komentar yang dinilai tidak berempati hingga memicu kecaman publik.
Menanggapi lamanya waktu tunggu pasien, Syahril mengatakan kondisi tersebut umumnya dipicu keterbatasan kapasitas rumah sakit, terutama ruang perawatan intensif (ICU).
“Kalau pasien ada nunggu dua jam, tiga jam. Jangankan delapan jam, ada yang satu hari, ada yang dua hari. Karena memang ruangannya kosong, apalagi kalau membutuhkan ruang ICU,” jelasnya.
Ia menyarankan pasien yang membutuhkan penanganan segera dapat dirujuk ke rumah sakit lain apabila ruang perawatan di rumah sakit tujuan sudah penuh.
“Boleh sekarang ini ya, rumah sakit yang ada di daerah itu atau di provinsi yang lain karena membutuhkan suatu penanganan. Soalnya, kalau hanya berkutat di rumah sakit itu, ruang ICU-nya udah penuh terus nggak bakalan, kasihan pasiennya,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Wiweka mengungkapkan dari 10 nama yang diperiksa, sedikitnya tiga orang merupakan dokter, termasuk seorang dokter gigi.
Menurutnya, beberapa dokter yang diduga terlibat telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial.
“Teman-teman dari sejawat dokter ini sudah merasa feeling guilty (merasa bersalah). Mereka sudah menyampaikan secara terbuka kalau kita lihat di medsos,” ujarnya.
Wiweka mengatakan pemeriksaan etik terhadap para dokter kini dilakukan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) dan ditargetkan selesai dalam waktu sekitar satu pekan.
“At least satu minggu bisa. Kami sudah suratin supaya dilakukan klarifikasi dulu, kemudian nanti dilanjut pembinaan,” katanya.
Apabila terbukti melanggar etik, sanksi yang dapat dijatuhkan mulai dari teguran lisan dan tertulis, pembinaan melalui seminar serta penulisan jurnal, hingga kewajiban mengikuti pendidikan etik kembali.
Wiweka juga menepis anggapan bahwa kelelahan (burn out) dapat dijadikan alasan untuk merundung pasien di media sosial.
“Apapun itu burn out atau bagaimanapun, manakala seorang dokter dalam ranah hubungan pasien dan dokter itu termasuk yang virtual, dia harus bisa mengendalikan. Itu tidak dibenarkan, itu tidak ditolerir,” tegasnya.
