43 Ribu Orang Kena PHK hingga Juli 2026, Pengusaha Ungkap Penyebabnya
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menjadi perhatian dunia usaha. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat sebanyak 43 ribu pekerja terkena PHK sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, tingginya angka PHK tidak bisa hanya dilihat dari jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan. Menurutnya, yang lebih penting adalah mencari akar persoalan agar PHK dapat dicegah.
“Kami sekarang sudah tidak mau lihat cuma data, karena kami melihat adalah bagaimana nih solusi antisipasi kita, jangan sampai PHK itu terjadi,” kata Shinta di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (21/8/2026).
Shinta menjelaskan, PHK merupakan persoalan di bagian hilir. Sementara penyebab perusahaan melakukan PHK banyak berasal dari berbagai persoalan di sisi hulu.
Karena itu, dunia usaha mendorong pemerintah menyelesaikan berbagai hambatan yang membuat industri kesulitan menjalankan kegiatan usahanya.
“Makanya kita debottlenecking ini kita fokus banget, karena banyak PHK itu terjadi karena hulunya tidak bisa diselesaikan,” ujarnya.
Menurut Shinta, pengusaha pada dasarnya tidak menjadikan PHK sebagai pilihan utama. PHK justru menjadi langkah terakhir ketika berbagai persoalan yang dihadapi perusahaan tidak dapat diselesaikan.
“Saya tidak mau melihat hanya angka, kita mesti melihat bagaimana solusinya, jangan sampai PHK itu bisa terjadi, dan PHK itu selalu adalah opsi terakhir untuk pengusaha, tidak ada yang mau PHK kalau bisa,” tegasnya.
Salah satu sektor yang dinilai membutuhkan perhatian serius adalah industri padat karya, termasuk tekstil dan garmen.
Sektor tersebut masih menghadapi persoalan terkait keberlangsungan usaha dan penyerapan tenaga kerja. Industri padat karya juga sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku dan pasokan gas industri.
“Tekstil garmen, salah satu yang dari dulu masih menjadi isu. Jadi banyak sekali kalau industri padat karya itu kan kaitan dengan ketersediaan bahan baku, kaitan kepada gas industri, ini kan semua besar, jadi tentunya akan sangat berdampak kalau ini tidak diselesaikan,” kata Shinta.
Dengan demikian, penyelesaian berbagai persoalan yang berada di hulu dinilai menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan industri sekaligus mencegah gelombang PHK semakin meluas.
