Keasyikan Nonton Video Pendek Bisa Tumpulkan Fungsi Otak
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Kebiasaan menikmati video pendek secara terus-menerus ternyata dapat memengaruhi aktivitas bagian otak yang berperan dalam menjaga fokus, mengendalikan diri, dan mengambil keputusan.
Temuan tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti Zhejiang University, China, yang diterbitkan dalam jurnal NeuroImage pada Januari 2026. Penelitian menggunakan pemindaian functional magnetic resonance imaging (fMRI) dan proton magnetic resonance spectroscopy (¹H-MRS) untuk melihat aktivitas serta kondisi neurokimia otak saat seseorang menonton video pendek.
Dalam penelitian itu, peneliti menemukan bahwa dua bagian otak, yakni dorsal anterior cingulate cortex (dACC) dan dorsolateral prefrontal cortex (dlPFC), mengalami penurunan aktivitas ketika peserta menonton video yang mereka sukai hingga selesai.
Kedua bagian otak tersebut memiliki peran penting. dACC berfungsi dalam memantau konflik, mengevaluasi usaha, serta membantu proses pengambilan keputusan berdasarkan penghargaan atau imbalan. Sementara dlPFC berperan dalam pengendalian kognitif dan kemampuan mengatur perilaku.
Peneliti melibatkan 56 orang dewasa muda dalam studi tersebut. Para peserta diminta menonton berbagai video pendek berdurasi rata-rata sekitar 23 detik di dalam mesin MRI.
Video yang ditonton hingga selesai dikategorikan sebagai video yang disukai, sedangkan video yang dilewati sebelum separuh durasi dianggap tidak menarik bagi peserta.
Hasil penelitian menunjukkan, ketika seseorang menikmati video pendek yang dianggap menarik, aktivitas dACC dan dlPFC menurun secara signifikan dibandingkan kondisi normal.
Menurut peneliti, kondisi tersebut menggambarkan perubahan otak menuju pola pemrosesan yang lebih otomatis dan membutuhkan lebih sedikit usaha kognitif ketika seseorang sudah sangat menikmati suatu konten.
Namun, penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa video pendek secara langsung merusak otak atau menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan berpikir dalam jangka panjang.
Para peneliti menjelaskan, penurunan aktivitas otak tersebut lebih berkaitan dengan kondisi ketika seseorang sangat terserap dalam sebuah aktivitas atau mengalami keadaan flow, seperti saat menikmati film atau bermain gim.
Meski demikian, kebiasaan mengonsumsi konten video pendek secara berlebihan tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi pola perhatian seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa paparan konten digital dengan durasi sangat singkat dan rangsangan yang terus berganti dapat membuat otak terbiasa menerima informasi cepat, sehingga berpotensi mengurangi kemampuan bertahan dalam aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang.
Dalam penelitian terbaru ini, para ilmuwan juga menemukan adanya hubungan antara kadar glutamat di otak dengan perubahan aktivitas dACC. Peserta dengan kadar glutamat lebih tinggi cenderung mengalami penurunan aktivitas dACC yang lebih kecil saat menonton video.
Sementara itu, kadar GABA tidak menunjukkan hubungan signifikan terhadap perubahan aktivitas kedua wilayah otak tersebut.
Para peneliti menegaskan bahwa studi ini masih memiliki keterbatasan. Penelitian hanya mengamati respons otak dalam satu sesi menonton dan belum mengukur tingkat kecanduan video pendek secara khusus.
Selain itu, penelitian hanya menunjukkan hubungan antara kebiasaan menikmati video pendek dengan perubahan aktivitas otak, bukan membuktikan adanya hubungan sebab-akibat bahwa video pendek menyebabkan kerusakan fungsi otak.
Dengan demikian, hasil penelitian ini lebih tepat dipahami sebagai gambaran bagaimana otak merespons konten video pendek yang menarik, sekaligus menjadi pengingat agar penggunaan media digital tetap dilakukan secara seimbang.
