Trump Bikin Tarif Baru Produk Teknologi China, Chip hingga Laptop Jadi Sasaran
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan pengenaan tarif impor baru terhadap produk teknologi asal China.
Rencana tersebut tidak hanya menyasar semikonduktor atau chip, tetapi juga sejumlah produk teknologi lain seperti laptop, server pusat data hingga perangkat keras permainan.
Rencana itu terungkap dalam laporan Politico yang mengutip delapan sumber internal. Namun, kebijakan tersebut masih berada pada tahap awal sehingga masih berpeluang mengalami perubahan sebelum diterapkan.
Gedung Putih juga belum memberikan keterangan resmi terkait rencana tersebut. Meski demikian, seorang perwakilan Gedung Putih menyebut kebijakan perdagangan Trump diarahkan untuk mendorong kembali manufaktur semikonduktor ke Amerika Serikat.
“Kebijakan-kebijakannya telah mengamankan investasi senilai ratusan miliar dolar di sektor penting ini,” ujar perwakilan Gedung Putih seperti dikutip CNBC, Jumat (28/8/2026).
Trump Pernah Ancam Tarif 100 Persen
Rencana tarif baru terhadap produk semikonduktor China bukan merupakan kebijakan yang sepenuhnya baru bagi AS.
Pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, AS telah lebih dulu menerapkan sejumlah pembatasan terhadap produk dan teknologi semikonduktor dari China.
Trump juga sebelumnya sempat menyatakan rencana untuk mengenakan tarif hingga sekitar 100 persen terhadap semikonduktor dan chip.
Namun, Trump memberikan kemungkinan pembebasan tarif bagi perusahaan yang bersedia membangun fasilitas manufaktur di Amerika Serikat.
Rencana tersebut hingga kini belum terealisasi sepenuhnya. Pada Januari 2026, Trump juga memberlakukan tarif sebesar 25 persen terhadap sejumlah chip kecerdasan buatan (AI) tertentu.
China Masih Bisa Akses Chip Nvidia
Di tengah pembatasan tersebut, perusahaan-perusahaan China dilaporkan masih mampu mengakses chip buatan Nvidia.
Akses tersebut salah satunya dilakukan melalui penyedia layanan komputasi awan di luar negeri.
Para pengamat industri menilai akses terhadap komputasi tingkat lanjut melalui penyedia cloud asing menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong peningkatan kemampuan pengembangan model AI China.
Kondisi ini kemudian menjadi perhatian pemerintah AS karena pembatasan ekspor chip canggih dinilai belum sepenuhnya menutup akses China terhadap teknologi komputasi tingkat lanjut.
Para ahli menyebut AS tengah menyiapkan aturan untuk menutup celah tersebut.
Namun, prosesnya masih menghadapi berbagai hambatan sebelum aturan baru tersebut dapat memberikan dampak terhadap akses China terhadap teknologi AI.
Jika terealisasi, kebijakan tarif baru tersebut berpotensi memperluas persaingan teknologi antara Washington dan Beijing, terutama dalam perebutan dominasi industri semikonduktor dan infrastruktur AI.
