AHY: Pemimpin Sejati Bukan Sibuk Pikirkan Pemilu Berikutnya
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan seorang pemimpin tidak seharusnya hanya memikirkan kepentingan politik jangka pendek, tetapi juga harus menyiapkan masa depan generasi berikutnya.
AHY menyampaikan hal itu saat peluncuran buku Kepemimpinan AHY: Dalam Beragam Sudut Pandang Tokoh Muda Indonesia di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (23/9/2026) malam.
Menurut AHY, ukuran kepemimpinan tidak semata-mata dilihat dari apa yang dapat dicapai selama seseorang memegang jabatan, tetapi juga dari sejauh mana ia mempersiapkan keberlanjutan setelah masa kepemimpinannya berakhir.
“True leadership is not about the next election. It is about the next generation,” kata AHY.
Ia menjelaskan, pemimpin harus memikirkan siapa yang akan melanjutkan berbagai pekerjaan yang belum selesai ketika masa kepemimpinannya berakhir.
“Dia harus sibuk untuk memikirkan sekaligus menyiapkan siapa yang akan melanjutkan hal-hal yang belum bisa dicapai atau dituntaskannya ketika waktunya telah habis, ketika waktunya telah usai. Artinya, berpikir next generation,” ujarnya.
AHY mengatakan tantangan yang dihadapi generasi mendatang semakin kompleks. Ia menyinggung kondisi ekonomi yang terus menghadapi tekanan dan dampaknya yang dapat dirasakan langsung oleh keluarga.
“Kita tahu ekonomi terus menghadapi tantangan, dan isu ini juga akan langsung masuk ke rumah-rumah keluarga-keluarga kita,” katanya.
Selain ekonomi, AHY juga menyoroti persoalan lingkungan. Menurut dia, perubahan kondisi iklim membuat tantangan ekologis semakin nyata.
“Bumi makin panas, dan El Nino berhimpit dengan kemarau panjang. Belum lagi nanti begitu masuk musim hujan, badai dan bencana hidrometeorologi juga mengintai kita semua,” ujarnya.
AHY kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan masa depan anak-anak yang akan menghadapi dampak dari keputusan yang dibuat saat ini.
Ia mengatakan dirinya memiliki bayi berusia enam bulan sehingga persoalan masa depan generasi bukan hanya menjadi isu abstrak baginya.
“Saya kalau bicara generasi punya hak karena masih punya bayi berusia enam bulan. Kalau membayangkan hari ini panasnya seperti ini, 20, 30, dan 40 tahun ke depan bagaimana hidup kita dan hidup generasi ke depan? Jadi, saya rasa kita harus tergerak,” katanya.
Menurut AHY, menghadapi berbagai persoalan tersebut membutuhkan kerja sama yang lebih luas. Kolaborasi, kata dia, tidak cukup hanya dilakukan antarsektor, antardaerah, atau antarkementerian dan lembaga.
“Sejatinya manusia saling berkompetisi, tetapi semangat era hari ini dan ke depan adalah lebih dari sekadar kompetisi, yakni kolaborasi,” ujar AHY.
